Kamis, 06 April 2017

Masjid Kapal di Semarang - Jawa Tengah


    Akhir Maret 2017, seorang teman menelepon dari Surabaya, katanya  di bulan April mau ke Semarang untuk melihat masjid Kapal dan minta tolong untuk di "guide" ke lokasi
Welah...Masjid Kapal?? Dimana itu ya?? Wah..jan payah tenan kie..Koq bisa sampai ketinggalan info obyek wisata di kota sendiri .....Maafkan daku, kota Semarang.....
Kebetulan hari minggu di awal bulan April 2017, keluarga besar saya berkumpul dan ingin jalan bareng untuk berburu durian dan iwak manuk goreng di mangkang. Wah, berarti searah dengan ke Masjid Kapal dong....Apalagi semua anggota Genk juga sepakat untuk ke tempat itu....Alhamdulillah..
Setelah berburu durian, maka meluncurlah kami untuk menuju masjid tersebut. Rencana nya mau mengunjungi Tempat yang lagi viral tersebut dan sekalian sholat Dhuhur. Meskipun setelah sampai di Masjid tersebut kami tidak bisa sholat karena pengunjung selfie lebih banyak daripada pengunjung sholat tetapi tempat ini layak untuk ditulis dan diinfokan kepada para Bolanger's  

Akses ke Lokasi
    Bangunan ini berlokasi di Desa Dadakan kecamatan Ngaliyan Semarang Barat. Untuk menuju lokasi bisa dari 2 jalur yaitu
  -   Dari jalan Ngaliyan - Palir
      dari   arah   Semarang  menuju  ke  Ngaliyan,  tepat  sebelum  Lembaga
      Pemasyarakatan     Kelas   1 A    Kedungpane   belok   ke    kanan   dan
      menyusuri   jalan   sekitar  10  km  dan setelah  pertigaan  belok   ke  kiri
      menuju  jalan   Kyai  Padak
  -   Dari jalan menuju perumahan "Beranda Bali".
      Rute ini  jalannya lebih bagus  dan  luas  dibanding  jalur  yang  tadi  dan
      jalur yang ditempuh juga relatuf lebih dekat

Sekilas Obyek
       Masjid  ini  sebenarnya  bernama  As Safinatun Najah  tetapi  karena
bangunannya  berbentuk kapal maka lebih  dikenal dengan sebutan masjid
Kapal.
Masjid milik Yayasan Safinatun Najaat Pekalongan ini dibangun mulai pada Agustus 2015, diatas tanah 4000 m2 dengan arsitektur berbentuk  Bahtera
atau  Kapal Nabi Nuh. Bentuk Arsitektur  ini  merupakan  hasil perundingan
pihak yayasan dan juga sesuai dengan nama yayasan yang bermakna kapal Penyelamat.
Masjid   ini   memang  menyerupai  kapal  kayu  karena  temboknya  dilukis
manual dengan tekstur kayu dan diatas dek kapal ada bangunan berwarna putih. Bangunan  ini  terdiri dari 3 
( tiga ) lantai, yaitu :
   -   Lantai pertama untuk gedung pertemuan ( aula ), tempat wudhu dan toilet
   -   Lantai kedua merupakan tempat shalat
   -   Lantai ketiga direncanakan untuk perpustakaan
Bagian   Roof   Top   ada  kubah   yang   berwarna  hijau.  Dari  tempat   ini 
pengunjung  bisa melihat sawah dan hutan  yang  berada  disekeliling lokasi 
masjid. Gedung  pertemuan  di  lantai  pertama  boleh  disewa  untuk  acara 
khataman, sunatan massal atau pernikahan.
      Nantinya di lokasi ini akan dibangun juga  asrama untuk santri dan fasilitas klinik. Pihak yayasan sedang berusaha menjalin kerja sama dengan Pemerintah Kota Semarang agar penanganan medis bisa maksimal

Masjid dengan arsitektur yang unik ini bisa merupakan alternatif untuk wisata, baik wisata religi, wisata selfie atau wisata keduanya sekaligus.
Bagi para Bolanger's dan kaum Selfier's yang tertarik dengan tempat ini, bisa mencoba untuk mengunjungi. Dijamin tidak rugi bandar.. :-D
Let's Visit Semarang......



Sabtu, 07 Januari 2017

Klenteng Sam Poo Kong di Semarang - Jawa Tengah


Kelenteng Sam Poo Kong adalah sebuah petilasan atau bekas tempat persinggahan dan pendaratan pertama seorang Laksamana Tiongkok beragama islam yang bernama Zheng He / Cheng Ho. Tempat ini dulunya disebut dengan Gedong Batu. Nama ini yang berasal dari sebuah Goa batu besar yang terletak pada sebuah bukit batu tetapi ada sebagian orang yang berpendapat bahwa nama itu berasal dari kata Kedong Batu yaitu tumpukan batu untuk membendung aliran sungai. Meski sampai sekarang belum ada penelitian lanjut tentang asal muasal dari nama tersebut tetapi lokasi ini tetap layak sebagi obyek wisata untuk dikunjungi.
Lokasinya berada di sebelah barat daya kota Semarang, tepatnya di daerah Simongan. Tanda yang menunjukan petilasan ini berciri keislamanan  adalah dengan ditemukannya tulisan berbunyi "Marilah Kita Mengheningkan Cipta dengan mendengarkan bacaan Al Qur'an".
      Orang Indonesia keturunan cina menganggap bangunan itu adalah sebuah kelenteng apalagi karena bangunannya berarsitektur cina. Sekarang tempat tersebut dijadikan tempat peringatan dan tempat pemujaan atau bersembahyang serta tempat untuk berziarah. Untuk keperluan tersebut, di dalam gua batu itu diletakan sebuah altar, serta patung-patung Sam Po Tay Djien. Padahal laksamana cheng ho adalah seorang muslim, tetapi oleh mereka di anggap dewa. Hal ini dapat dimaklumi mengingat agama Kong Hu Cu atau Tao menganggap orang yang sudah meninggal dapat memberikan pertolongan kepada mereka.[1]

Sejarah
    Pada awal abad ke-15 Laksamana Zheng He sedang mengadakan pelayaran menyusuri pantai laut Jawa dan sampai pada sebuah semenanjung. Karena ada awak kapal yang sakit, ia memerintahkan membuang sauh dan mendarat dengan menyusuri sebuah sungai yang sekarang dikenal dengan sungai Kaligarang. Ia mendarat di sebuah desa bernama Simongan. Setelah sampai didaratan, ia menemukan sebuah gua batu dan dipergunakan untuk tempat bersembahyang. Zeng He memutuskan menetap untuk sementara waktu ditempat tersebut. Sedangkan awak kapalnya yang sakit dirawat dan diberi obat dari ramuan dedaunan yang ada disekitar tempat itu.
      Tempat tersebut sekarang telah berubah fungsi menjadi kelenteng. Bangunan itu sekarang telah berada di tengah kota Semarang di akibatkan pantai utara jawa selalu mangalami pendangkalan diakibatkan adanya sedimentasi sehingga lambat-laun daratan akan semakin bertambah luas kearah utara.
Konon, setelah Zheng He meninggalkan tempat tersebut karena ia harus melanjutkan pelayarannya, banyak awak kapalnya yang tinggal di desa Simongan dan kawin dengan penduduk setempat. Mereka bersawah dan berladang ditempat itu. Zheng He memberikan pelajaran bercocok-tanam serta menyebarkan ajaran-ajaran Islam.

Sekilas Objek Wisata
       Untuk masuk ke kawasan ini cukup merogoh kocek Rp 5000 per orang. Parkir mobil atau motor juga sudah tersedia cukup luas dan aman. Setelah masuk ke kawasan akan ada areal luas semacam alun-alun (lapangan), Bangunan Podium dan Patung Laksamana Cheng Ho.
Apabila ingin berfoto dengan menggunakan pakaian ala orang China, ada konter / outlet yang menyediakan jasa persewaan dengan harga Rp. 90.000 ( normal ) dan Rp. 150.000 ( Kostum Laksamana Cheng Ho ). Harga tersebut sudah termasuk tiket masuk ke Kawasan Utama Klenteng Sam Poo Kong, biaya photografer dancetak 2 lembar ( sesuai yang kita pilih ). 
       Komplek Klenteng Sam Poo Kong terdiri atas sejumlah Bangunan yaitu Klenteng Besar dan gua Sam Po Kong, Klenteng Tho Tee Kong, dan empat tempat pemujaan ( Kyai Juru Mudi, Kyai Jangkar, Kyai Cundrik Bumi dan mbah Kyai Tumpeng). 
Klenteng Besar dan gua merupakan bangunan yang paling penting dan merupakan pusat seluruh kegiatan pemujaan. Gua yang memiliki mata air yang tak pernah kering ini dipercaya sebagai petilasan yang pernah ditinggali Sam Po Tay Djien (Zheng He)
Bentuk bangunan klenteng merupakan bangunan tunggal beratap susun. Berbeda dengan tipe klenteng yang lain, klenteng ini tidak memiliki serambi yang terpisah. Pada bagian tengah terdapat ruang pemujaan Sam Po.

Kegiatan dan Perayaan Tahunan
      Setelah ratusan tahun sejak pendaratan itu, pada bulan Oktober 1724 diadakan upacara besar-besaran sekaligus pembangunan kuil sebagai ungkapan terima kasih kepada Sam Po Tay Djien. Dua puluh tahun sebelumnya diberitakan bahwa gua yang dipercaya sebagai tempat semedi Sam Po runtuh disambar petir. Tak berselang lama gua tersebut dibangun kembali dan didalamnya ditempatkan patung Sam Po dengan empat anak buahnya yang didatangkan dari Tiongkok. Pada perayaan tahun 1724 tersebut telah ditambahkan bangunan emperan di depan gua.
      Perayaan tahunan peringatan pendaratan Zheng He merupakan salah satu agenda utama di kota Semarang. Perayaan dimulai dengan upacara agama di kuil Tay Kak Sie, di Gang Lombok. Setelah itu kemudian dilanjutkan dengan arak-arakan patung Sam Po Kong di kuil Tay Kak Sie ke Gedong Batu. Patung tersebut kemudian diletakkan berdampingan dengan patung Sam Po Kong yang asli di Gedong Batu.
      Tradisi unik ini bermula sejak pertengahan kedua abad ke-19. Pada masa itu, kawasan Simongan dikuasai oleh seorang tuan tanah. Orang-orang yang hendak berkunjung ke kuil Sam Po Kong diharuskan membayar sejumlah uang yang harganya sangat mahal. Karena kebanyakan peziarah tidak mampu membayarnya, kegiatan pemujaan kemudian dialihkan ke kuil Tay Kak Sie. Sebuah replika patung Sam Po Kong kemudian dibuat dan diletakkan di dalam kuil Tay Kak Sie. Setiap tanggal 29 atau 30 bulan keenam menurut penanggalan Imlek Cina, patung duplikat tersebut diarak dari Tay Kak Sie ke Gedong Batu yang dimaksudkan agar patung replika tersebut mendapat berkah dari patung asli yang berada di dalam kuil Gedong Batu.
      Pada tahun 1879 atau tahun kelima Guang Xu, kawasan Simongan dibeli oleh Oei Tjie Sien. Oei Tjie Sien merupakan ayah dari Oei Tiong Ham, penderma yang juga dikenal sebagai "Raja Gula Indonesia" pada masa itu.. Sejak saat itu, para peziarah dapat bersembahyang di kuil Gedong Batu tanpa dipungut biaya apapun dan urusan pengurusan kuil diserahkan kepada Yayasan Sam Po Kong setempat. Pawai Sam Po Kong itu dihidupkan kembali pada tahun 1937 dan terus menjadi daya tarik hingga sekarang.

Kalau sedang mengunjungi kota Semarang, tempat ini layak menjadi tujuan wisata Anda, karena selain bangunan Arsitekturnya sangat Indah juga kegiatan yang ada di komplek ini sangat menarik. Bahkan saya pernah bertemu dan berbicara dengan turis dari India, Singapore dan China. Kalau tidak menarik, tidak mungkin mereka jauh-jauh datang ke tempat ini.
Let's visit Semarang.......




Kamis, 21 Juli 2016

Cimory - Bawen, Kab. Semarang, Jawa Tengah, Indonesia

Suatu saat saya ada perjalanan dari Semarang ke Solo dan ketika melewati di daerah Bawen, tepatnya daerah Tegal Panas, saya melihat seekor sapi yang montok dan sexy  lagi "nongkrong" di atap sebuah bangunan, seperti sapi di pasar Sunggingan, Boyolali.
Selintas terpikir, itu bangunan apa ya? Peternakan atau Rumah Pemotongan atau Restaurant?
Karena penasaran, saya berhenti sebentar untuk melihat dan disitu tertulis nama bangunannya yaitu Cimory.
Lho?? koq namanya seperti nama sebuah resto di daerah Puncak- Bogor?? 
Klo melihat logo dan tulisannya sich emang sama, tapi apa Cimory di Jalan Raya Sukarno Hatta, Bawen, Kab. Semarang ini sama  dengan yang di Puncak - Bogor ya??
Tetapi, terlepas sama atau tidak, menaruh patung sapi yang besar diatas banguan, ( menurut saya ) merupakan strategi promosi yang sangat bagus buat isi bangunan ini.
Penasaran pengin masuk dan melihat - lihat tapi mengingat ada keperluan penting di Solo, terpaksa saya tunda rasa penasaran itu...,Awas kamu ya!!! Tunggu kedatanganku...
Selang waktu seminggu, dengan tekad bulat, semangat 45, maju tak gentar dan maju perut pantat mundur maka saya pun menuju lokasi. Setelah memarkir kendaraan, saya pun mulai menjelajah bangunan itu dan...... seekor sapi sudah standby menyambut di pintu masuk. Mooooo........
Ketika menuju restaurannya ada sapi yang menyambut juga, di taman juga makin banyak sapi yang menyambut dengan bergaya seperti model dan peragawati. Bahkan mau di pegang-pegang, dielus-elus dan dinaiki dengan tulus ikhlas lho... Tapi itu semua cuma KW alias patung dan mainan koq....heheh
Sapi asli dari Dealer resmi dengan garansi TAM, hanya ada di kandang yang terletak di bagian paling belakang dari restauran dan dekat dengan kebun binatangnya. Ada juga Kelinci, Merak dan Rusa, bahkan ada kebun mini. Mungkin pengelola ingin tempat ini juga sebagai tempat edukasi bagi anak-anak.
Waktu sudah menunjukkan jan 12 an dan mulai ada yang mengadakan demo dan konser musik keroncong. Siapakah itu ???....Yup. Betul sekali. Yang mengadakan demo keroncong adalah perut saya sehingga sasaran berikutnya adalah ruang P3K ( Pertolongan Pada Perut Kelaparan ) alias  restauran.
Setelah mengisi perut dengan makanan yang dipesan maka kakipun melangkah ke Kasir. Sempat dag dig dug nich. Uang yang dibawa cukup gk ya?? heheh...
Ehh, ternyata saudara-saudara.....harga nya gak mahal dan rasa makanannya lumayan juga lho...
Rasa penasaran terhadap tempat ini sudah terlunasi, demo dan konser musik keroncong juga sudah tertangani, berarti saatnya untuk pulang. Tetapi tidak afdol bin pantas kalau pulang tidak membawa oleh2
Disini juga ada swalayan yang menjual aneka oleh-oleh khas cymory lho. Menurut saya, yang istimewa disini adalah aneka coklat dari bermacam bentuk dan bermacam kemasan dan aneka susu, dari yang susu segar aneka rasa sampai yang susu olahan, seperti yogurt, cheese, cream cheese. Yang tidak dijual hanya susu yang jualan...hehehehe
Klo bapak ibu, mas mbak, agan sista melewati daerah ini, tidak ada salahnya untuk mampir dan mencoba makanan dan menikmati suasana tempat dan nikmatnya makanan direstaurant nya.



Sabtu, 04 Juni 2016

Curug Lawe dan Curug Benowo, Ungaran - Kabupaten Semarang

Salah satu obyek wisata yang terletak di kaki Gunung Ungaran – Kabupaten Semarang, tepatnya di sebelah utara adalah yang bernama Curug Lawe dan Benowo di Desa Kalisidi, Kecamatan Ungaran Utara disingkat dengan CLBK. Lokasi berada di KPH Kedu Utara dengan  koordinat 7o 8′ 31.67 LS & 110o 21′ 36.82 BT atau kalau memakai Google Map di koordinat -7.14213, 110.36022. Tempat ini merupakan hulu dari sungai Banjir Kanal Barat ( Kaligarang ) di Kota Semarang
Curug dalam bahasa jawa memiliki arti Air Terjun.  Dari namanya sudah jelas terbayang  bahwa  ini adalah obyek  wisata alam dengan adventure tetapi sobat tidak usah kuatir karena di sini bukanlah adventure yang ekstrim koq. 
Cuma ada satu syarat untuk bisa mengunjungi lokasi curug yaitu sobat masih bisa jalan kaki...Cuma itu aja??.......Iya, cuma itu karena untuk menuju lokasi curug memang harus jalan kaki sekitar 1 -2 jam ( tergantung kecepatan jalannya ) melalui jalan setapak dengan medan yang tidak terlalu menanjak.  Tertarik ?? Kalau sobat tertarik, mari kita lanjutkan ceritanya.....
Untuk menuju lokasi, bisa dilakukan dari dari 2 arah / kota, yaitu dari kota Semarang dan dari kota Ungaran. Penjelasan detailnya adalah sebagai berikut :
              -       Dari kota Semarang dengan jarak tempuh sekitar 12 km
                Bisa melalui  jalan dari  Manyaran,  jalan dari  Unnes  atau  jalan  dari  Cangkiran  (Mijen). Dari  jalan 
                tersebut menuju ke arah jalan Ungaran – Gunung Pati
                Untuk   yang   dari   arah  Cangkiran,  bisa  lewat  jalan sebelum pasar GunungPati  (setelah makam)
                belok ke kanan.
                Setelah   berada    di   jalan   Ungaran  Gunung Pati,  carilah  kantor    kecamatan  Gunung Pati  yang
                baru  dan  di  sebelah  kirinya  ada  jalan ke dukuh Sumur Gunung dan ikuti aja jalannya menuju Pos 
                CLBK
              -       Dari kota Ungaran dengan jarak tempuh sekitar 7 km
                Dari Terminal Sisemut, menuju jalan Ungaran – GunungPati. Setelah kantor  kecamatan GunungPati 
                yang baru, belok kiri dan ikuti jalannya sampai Pos CLBK.

      Kondisi jalan dari pertigaan setelah kantor kecamatan menuju Posko CLBK memang ada yang menanjak dengan kemiringan sekitar 25 -40 %, tetapi ini tentu bukan sebuah halangan karena menggunakan kendaraan dan jalannya juga sudah beraspal hotmix. Sesampai di Posko CLBK, sobat bisa memarkirkan kendaraan, membeli tiket masuk dan kalau mau mengisi perbekalan pun sudah ada warung yang tersedia.
Dari posko dan tempat parkir, perjalanan dimulai dengan melewati jalan separuh beton di tengah perkebunan PT Cengkih Zanzibar. 
Sobat tidak perlu kuatir akan tersesat karena sejak pertengahan tahun 2014, Curug Lawe dan Curug Benowo telah dibentuk kepengurusan resmi serta pemeliharaannya, sehingga sudah banyak petunjuk arahnya. Hanya perlu berhati – hati saja karena  jalannya  kadang licin.
           Ada dua jalur menuju ke lokasi curug yaitu jalur lama dan jalur baru.  Jika melewati jalur lama akan melewati saluran dan jembatan irigasi dengan sisi kiri adalah jurang yang sangat curam.  Sedangkan jika menggunakan jalur baru akan melewati Sendang Pengantin kemudian turun ke arah bendung Sidomble melewati pinggiran sungai.  Apabila ingin merasakan sensasi keduanya, bisa berangkat lewat jalur baru terus pulangnya lewat jalur lama atau sebaliknya.
Setelah itu kira-kira 10 menit dari Bendung Sidomble akan ditemui 2 percabangan, kiri menuju Curug Benowo dan kanan menuju Curug Lawe. Sobat bisa ke Curug Lawe dulu baru ke curug Benowo atau sebaliknya karena ada jalan tembus ke kedua curug tersebut. Tetapi disarankan untuk ke curug Benowo terlebih dahulu baru ke Curug Lawe karena medannya lebih mudah
      Obyek wisata ini masih menjaga ekosistem alamnya, sehingga masih ada satwa liar yang tinggal di tempat ini. Untuk melihat satwa yang ada maka di tepi jalur lama disediakan beberapa Gardu Pandang Lutung. Itu untuk memandang apa?? ...Dari namanya ya pasti untuk memandang satwa lutung lah ( sejenis kera ) dan bukan untuk memandang bidadari yang lagi mandi. Apalagi mau mencuri selendangnya....Kalau sobat lagi beruntung akan dapat melihat juga Burung Elang terbang di langit hutan CLBK
Seperti cerita diatas, di jalur ini juga akan ditemui jembatan kayu yang dijuluki Jembatan Romantis yang terletak di tepi jurang dan dibawahnya terdapat aliran air. Karena jembatan ini, selain untuk menyeberangkan orang juga untuk menyeberangkan air
Kenapa dinamakan jembatan romantis?? ...Karena ketika melewati jembatan ini, adrenalin akan sedikit naik disebabkan di sisi sebelah kiri jembatan terdapat jurang cukup dalam  yang akan terlihat langsung ketika melewatinya. Bagi yang berpasangan, biasanya cewek akan langsung pegangan erat pada cowoknya. Romantis bukan??
Tetapi kalau cowoknya juga takut juga ya saling berpegangan saja...lalu jalan pelan-pelan.......soo sweettt grandmaa grandpaa......
Lha terus yang Jomblo pegangan siapa??......Yaaaa, berpegang pada iman Tuhan saja, Berdoa dengan sungguh-sungguh, semoga ada rombongan cewek yang akan membutuhkan cowok untuk pegangan.....
Tetapi..meskipun memancing adrenalin, ternyata tempat ini adalah salah satu favorit pengunjung untuk berfoto dan berselfie ria.
        Perjalanan menuju lokasi curug memang akan membuat keringat bercucuran, tetapi dibalik kecutnya keringat eh cucuran keringat, akan terbayar lunas tanpa cicilan oleh keindahan pemandangan Air Terjun yang memukau. Air terjun yang jatuh ke permukaan tanah akan terlihat seperti Lawe atau Benang-benang putih yang jatuh dari tebing. Hal ini memberikan suasana yang eksotis dan suasana hutan dengan tumbuhan yang asri juga menambah nilai keindahan di tempat ini. 
       Bagi Sobat yang menyukai wisata alam dengan adventure ringan dan biaya ringan, tidak ada salahnya untuk menjajal obyek wisata Curug Lawe  Kalisidi alias CLBK
Rimbunnya tanaman, Indahnya hutan, eksotisnya air terjun, liarnya satwa yang dilindungi dan segarnya oksigen yang akan memenuhi paru-paru, pastinya akan memberikan kedamaian dan kesegaran bagi jiwa dan raga.
Ayoo.....datang dan berwisata ke CLBK........





Sabtu, 07 Mei 2016

Ramadhan di Negeri Eiffel

Ramadhan di Negeri EiffelAssalamu’alaikum Wr.Wb.

     Setiap masuk bulan Ramadhan, saya menjadi teringat pengalaman ketika bulan Ramadhan tahun 2015 yang lalu yaitu ketika kami diberi kesempatan dan mendapat undangan untuk menghadiri dan presentasi di sebuah Konferensi di  Politech Orleans, Perancis.
Konferensi di adakan pada tanggal 29 Juni – 2 Juli 2015, dimana tanggal itu berada di tengah-tengah bulan Ramadhan 1437 H yang  jatuh pada tanggal 17 Juni – 16 Juli 2015. Maka persiapanpun mulai dilakukan dengan berkunjung dan bertanya ke salah seorang sesepuh yang memiliki banyak wawasan yaitu simbah Google...😁😁
   Setelah browsing tentang banyak hal terutama mengenai suasana puasa dan waktu berbuka di negara tersebut, ternyata waktu puasanya  sekitar 18 jam ( 4 jam lebih lama dari waktu puasa di Indonesia) dengan iklim Eropa yang lagi musim Panas dan suasana Ramadhan yang pasti berbeda dengan negara yang mayoritas muslim, sempat terlintas di pikiran untuk tidak menghadiri undangan tersebut atau kalaupun harus berangkatpun akan menjadi musafir saja dan mengganti dengan puasa di hari lain. Apalagi pengajuan Visa Schengen di TLS ( agen yang ditunjuk oleh Perancis untuk pengurusan Visa ) sampai 5 hari sebelum keberangkatan belum ada kabarnya alias kabar kabur.
Tapi ternyata pada 3 hari sebelum tanggal keberangkatan atau 5 hari sebelum konferensi diadakan, ada kabar dari TLS bahwa pengajuan visa telah di approve dan diminta segera mengambilnya.
Hal ini membuat berpikir, mungkin ini adalah jalan yang sudah ditentukan Allah agar tetap berangkat. Dan sebagai rasa syukur atas karunia tersebut tersebut maka kami membulatkan niat untuk tetap berpuasa Ramadhan apapun yang akan terjadi dan apapun kondisinya. Pokoknya Bismillah aja....Ku kan Puasa dengan Bismillah (menyadur  judul Film Kulamar Kau dengan Bismillah)....😁😁
      Tanggal 27 Juni 2015 siang waktu Indonesia, berangkat dari Semarang menuju Singapore. Waktu tempuh Semarang ke Singapura adalah 2 jam dan selisih waktunya adalah 1 jam lebih awal dari Waktu Indonesia Bagian Barat. Di Singapura, masih bisa berbuka puasa karena waktu berbuka di Singapura adalah sekitar jam 18.30 dan pesawat menuju Dubai berangkat pada jam 22.00.
Perjalalanan Singapura ke Dubai memerlukan waktu sekitar 7 jam dengan selisih waktu mundur 5 jam dari waktu Singapura. Tiba di Dubai  di tanggal 28 Juni 2015 sekitar jam 01.00, menurut simbah Google ( lagi ), Dubai mempunyai waktu Fajr jam 4.00.  Jadi tinggal dikurangi sekitar 10 menit atau sekitar 10 ayat dari waktu Fajr adalah waktu Imsak. Sehingga masih mempunyai waktu Sahur sampai jam 03.50
Oleh karena itu, beruntunglah orang yang berada di Indonesia karena mempunyai waktu Imsak yang membantu mengingatkan batas waktu sahur. 
         Jam  4.00 waktu Dubai,  pesawat yang menuju Perancis berangkat dan perjalanan akan memakan waktu selama 7 jam. Disinilah,  ujian puasa dimulai karena selama di pesawat makanan yang terlihat lezat disajikan dan minuman beraneka rasa juga selalu ditawarkan kepada seluruh penumpang. Coba bayangkan, Apa tidak cleguk-cleguk sodara-sodara..?  Apa penghuni perut tidak langsung bangun & berdemo? ..😁😁😁
Sempat saya lihat, beberapa orang dengan wajah Timur Tengah yang menjadi penumpang juga ikut menikmati hidangan yang disajikan. Terlintas pikiran su’udzon kalau mereka tidak menghargai bulan puasa tapi pikiran itu segera saya singkirkan dan berpikir bahwa mungkin mereka sedang menjadi musafir atau mungkin mereka memang bukan muslim.
Jadi teringat kalimat dari seorang ustadz ketika dulu saya belajar mengaji yang mengatakan bahwa “Agama Islam bukan milik orang Arab tetapi milik orang yang mendapatkan hidayah Allah “.
       Agar demo para penghuni perut tidak berlanjut dan agar jakun tidak cleguk-cleguk karena selalu ditawari oleh pramugari, kami menempelkan sticker “Dont Disturb” di seat dan mulai memejamkan mata untuk istirahat sambil berwirid.  Tiba di Bandara Charles De Gauli, Prancis di tanggal 28 Juni 2015 sekitar jam 09,00 dan selisih waktu 3 jam dari Dubai.
Waktu Maghrib di Perancis adalah sekitar jam 22.00, masih 13 jam lagi untuk berbuka puasa. Sehingga hari pertama kami di Prancis, waktu berpuasa adalah sekitar 20 jam tetapi dengan ijin Allah kami bisa melalui nya. Alhamdulillah...🙏
      Oh iya, ada cerita yang menarik ketika kami keluar Garbarata ( Belalai Gajah )  dari pesawat menuju pemeriksaan Imigrasi yaitu polisi yang berjaga di pintu keluar Garbarata membiarkan orang-orang bertampang bule yang berjalan di depan kami untuk lewat, tetapi kami dihentikan dan diminta menunjukkan Paspor. Dan setelah setelah melihat paspor, mereka tersenyum,  acungkan jempol dan berkata ’Good’. Meski tidak paham dengan maksud acungan jempol dan kata tersebut, kami pun melanjutkan ke area imigrasi. Apa karena wajah asia ini ya??... 😁😁.....EGP ( Emang Gue Pikirin ), yang penting lancar aja lah.
Welah....ternyata apa yang kami alami itu tadi ternyata belum seberapa, karena terlihat seorang kulit hitam yang yang sampai dikejar dan ditanya-tanya ( mungkin lebih lama dari kami ), padahal dia sudah hampir sampai di depan pemeriksaan Imigrasi.
Agak ngelantur nich..Oke, kita lanjut kan aja cerita nya ya....
       Dari Bandara Charles de Gaulli kemudian naik kereta MRT ( Mass Rapid Transit ) menuju stasiun Gare D’Austeritz lalu ganti jurusan ke Stasiun Gare de Orleans
Di hari kedua yaitu tanggal 29 Juni 2015 adalah sahur pertama di Prancis. Disini mempunyai waktu sahur sampai jam  04.00 karena waktu subuh di Perancis sekitar jam itu dan waktu maghrib atau berbuka puasa sekitar jam 22.00.  Jadi waktu berpuasa  sekitar 18 jam.
Hampir jam 22.00. Tunggu Buka Puasa
Di hari ini juga, pertama kali beraktifitas dari pagi hari yaitu sahur, sholat subuh dilanjut menuju Politech Orleans dan beraktivitas disana. Ini adalah pertama kali merasakan sensasi berpuasa dan godaan ketika beraktivitas di negeri  Parncis. Godaan dari bau makanan, cuaca musim panas dan cewek dengan pakaian sexy. Sepertinya yang terakhir adalah godaaan yang terberat buat kami...😁😂😂...Kalau dipandang mengurangi pahala puasa tapi kalau gak dipandang koq mubadzir ....😂😁😂......Hhushh...Ingat!! lagi puasa bozz.....ooh iyaa.. Astaghfirullah hal Adzim..
Cerita kegiatan lain selama di Negeri ini, akan saya tulis di judul artikel lain aja,.biar tidak melenceng dari topik....karena si topik lagi tidur...,😁😁..
      Setelah semua kegiatan dan semua misi, baik yang formal maupun yang rahasia sudah selesai, kamipun bersiap-siap  untuk kembali ke Indonesia....Mak’e, aku pulaang....😁😁😁
Tanggal 6 Juli sekitar jam 13.00 waktu Prancis, pesawat take off menuju Abu Dabi. Saya merasa selama perjalanan pulang ini,  kasih, berkah dan nikmat Allah banyak tercurah dan mengalir. Bagaimana tidak??  Kalau perjalanan berangkat dari Indonesia ke Prancis, waktunya berpuasanya mundur menjadi lebih lama tetapi perjalanan dari Prancis ke Indonesia adalah sebaliknya yaitu maju menjadi lebih cepat. Karena memang perbedaaan waktu seperti yang sudah saya jelaskan di atas.
Lalu, makanan yang selama perjalanan berangkat hanya bisa dilihat tetapi saat pulang ini bisa dinikmati dalam perjalanan Prancis ke Abu Dabi dan di perjalanan dari Abu Dabi ke Singapura pun masih bisa menikmati makan sahur. 
        Naah....soal makan sahur yang ini ada cerita menarik yaitu salah seorang pramugari mengajak kami bicara dengan bahasa melayu ketika masuk pesawat, dari logatnya mungkin dia dari Malaysia. Ternyata wajah kami memang wajah Asia banget... Bravo Asia...heheheh... Dia itulah yang membangunkan dan mengantar makanan untuk sahur. Trimaa kasiiih kak Roooss....betul3x...😁😁😁..
Sampai di Singapura tanggal 7 Juli 2015 sekitar jam 9.00, lalu transiit menuju Jakarta dan lanjut transit lagi ke Semarang.
Dan ketika sampai Semarang sekitar jam 18.00, setelah membatalkan puasa dengan minum maka ayam dan bebek  goreng nya bu Kliwon di Kokrosono Semarang, bisa dinikmati juga. Maknyus rasanyo...Tambo ciek....😁😁...

Puasa adalah sebuah kegiatan religi yang hanya kita dan Allah yang tahu, bahkan pahalanya pun hak prerogatif Nya dan tidak ada seorangpun manusia yang tahu cara menghitungnya. Tetapi pengalaman berpuasa ketika melakukan perjalanan jauh, musim yang berbeda  dan berada di negara yang secara kultur jauh dari ciri negara muslim tentunya memberikan pengalaman yang sangat unik dan menarik bagi saya, baik pengalaman fisik maupn pengalaman hati.
     Mas bro, mbak sis, pakde, bude, om, tante....tulisan ini hanyalah sebuah tulisan untuk sekedar berbagi cerita, tidak ada sedikitpun maksud untuk pamer, sombong atau riya’. Yah...anggap aja tulisan ini  seperti cerita ketika kita sedang berkumpul dan ngobrol dalam suasana yang akrab sambil minum kopi dan makan pisang goreng di teras rumah.


Wassalamu’alaikum Wr Wb     

Jumat, 29 Januari 2016

Candi Gedong Songo, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, Indonesia

Obyek wisata di daerah kabupaten Semarang yang lokasinya juga dilewati oleh salah satu jalur pendakian ke Gunung Ungaran adalah Kawasan Candi Gedong Songo. Tepatnya berlokasi ini berada di dusun Darum, Desa Candi, Kecamatan Ambarawa, Kabupaten Semarang dengan GPS Waypoint: 7°12’39.72”S (Latitude) 110°20?32.88” E (Longitude) dan Google Map Refference (-7.211033,110.342467)
Gedong Songo berasal dari bahasa jawa, "Gedong" berarti rumah atau bangunan, "Songo" berarti sembilan. Jadi arti kata GedongSongo adalah sembilan ( kelompok ) bangunan
Kawasan ini berketinggian 1200 mdpl dengan suhu rata-rata 19o - 27o Celcius dan memiliki bio energi terbaik di Asia. Bioenergi di kawasan ini bahkan lebih baik dari yang berada di pegunungan Tibet atau pegunungan lain di Asia. Dengan menghirup bioenergi ini akan dapat memberikan kesegaran di jiwa dan raga yang akan sangat membantu untuk kesehatan dan membantu meningkatkan kualitas hidup. 

Menuju Lokasi
Untuk menuju ke kawasan ini dapat dilakukan melalui berbagai arah, yaiitu :
-      Dari Arah Solo, turun di pasar Babadan kemudian menyeberang dan naik minibus jurusan Sumowono. Turun di Pom bensin Gedong Songo yang terletak di depan Gapuro bawah kawasan ini. Kemudian jalan kaki atau naik ojek mehuju gerbang utama
Atau turun di pasar Ambarawa, naik angkot ke pasar Bandungan lalu naik minibus jurusan Sumowono turun di Pom bensin Gedong Songo
-     Dari Arah Semarang, naik bis jurusan Sumowono dari terminal terboyo lalu turun di Pom bensin Gedong Songo.

Setelah membayar tiket masuk ( Dewasa/5 tahun ke atas: Rp 5.000/orang dan Wisatawan asing Rp 25.000/orang ), maka kita akan memasuki Gapuro Utama untuk memulai menjelajah kawasan ini. Penjelajahan bisa dilakukan dengan jalan kaki atau sewa kuda dengan tarif sesuai tujuannya yaitu  Wisata Desa Rp 25.000 (Wisman Rp 35.000), ke  Air Panas Rp 40.000 (Wisman Rp 60.000), ke Candi II Rp 30.000 (Wisman Rp 40.000) dan paket candi Songo Rp 50.000 (Wisman Rp 70.000)

Sejarah Candi Gedong Songo
        Di tahun 1740, Loten menemukan kawasan Candi Gedong Songo. Raffles mencatat kawasan ini dengan nama Gedong Pitoe ( baca : Pitu / Tujuh )  pada tahun 1804, karena saat itu hanya ditemukan tujuh kelompok bangunan. Pada 1825, Van Braam membuat publikasi tentang kawasan ini, kemudian di 1865  Friederich dan Hoopermans membuat tulisan tentang Gedong Songo. Tahun 1908, Van Stein Callenfels melakukan penelitian terhadap kawasan candi dan  Knebel melakukan inventarisasi pada tahun 1910-1911
       Sampai saat ini, sejarahwan belum dapat memastikan kapan candi itu dibangun dan siapa pendiri komplek candi Gedongsongo. Tetapi dari bentuk arsitektur candi, terutama bentuk bingkai kaki candi, dapat disimpulkan bangunan candi ini sejaman dengan komplek candi Dieng. Kemungkinan candi ini dibangun sekitar abad VIII M, pada masa pemerintahan Dinasti Sanjaya. Hanya saja siapa nama raja pendirinya belum dapat diketahui. 
       Candi Gedongsongo berlatar belakang agama hindu, hal ini dapat dilihat dari arca-arca yang menempati relung-relung candi. Misalnya arca Siwa Mahadewa, Siwa Mahaguru, Ganesa, Dhurga Nahisasuramardhini, Nandiswara dan Mahakala.
Menurut Pakar Candi, Evi Saraswati, menyebutkan bangunan candi di Indonesia dapat dibedakan menjadi dua tipe, yaitu candi Hindu dan Candi Budha. Ciri umum dari kedua tipe tersebut terletak pada bentuk bangunan. Candi Hindu cenderung ramping, lancip dan tinggi. Sedangkan Candi Budha berbentuk bulat dan besar seperti candi Borobudur.
Dilihat dari fungsinya candi juga dibedakan menjadi dua fungsi, yaitu candi sebagai tempat pemujaan atau ibadah dan candi yang dipakai sebagai tempat pemakaman.
          Candi yang berada di kawasan Gedongsongo ini diperkirakan merupakan candi untuk pemakaman. Karena pada saat ditemukan di sekitar candi banyak terdapat abu. Diperkirakan abu ini merupakan bekas pembakaran orang yang meninggal. Sesuai ajaran Hindu orang yang meninggal biasanya dibakar. 
Bangunan candi yang masih utuh bentuknya kini tinggal lima bangunan, yaitu candi I, II, III, IV dan V. Candi I terdiri satu bangunan dan masih utuh, candi II terdiri dua bangunan bangunan induk masih utuh dan satunya lagi tidak utuh. Candi III terdiri dari tiga bangunan yang semuanya masih utuh. Candi IV terdapat empat bangunan candi, tetapi tinggal satu bangunan candi saja yang masih utuh. Sedangkan Candi V tampat bekas-bekas pondasi candi yang menunjukkan bahwa di sana dahulu banyak sekali bangunan candi. Tetapi sekarang tinggal satu bangunan candi induk yang masih utuh. Candi VI, VII, VIII dan IX sekarang sudah tidak jelas lagi sisa-sisanya, karena beberapa reruntuhan bangunan yang terdapat di sana banyak yang diamankan. Demikian pula beberapa arca juga disimpan oleh Suaka Peninggalan Sejarah dan Purbakala Jawa Tengah.

Legenda Hanoman, Ratu Sima, Mbah Murdo dan Nyai Gayatri
         Menurut cerita rakyat setempat, kawasan dimana Candi Gedong Songo berdiri dahulu kala digunakan oleh Hanoman untuk mengubur Dasamuka ( Rahwana ) ketika perang besar antara Rama dan Dasamuka.di dalam cerita pawayangan Ramayana dikisahkan Dasamuka menculik Dewi Sinta ( istri dari Rama ) untuk dijadikan istrinya. Untuk merebut Sinta kembali maka terjadilah perang besar antara pihak Dasamuka dengan tentara raksasanya melawan Rama dengan pasukan kera yang di pimpin Hanoman. Karena kesaktiannya maka Rahwana tidak bisa mati, sehingga Rama mengeluarkan senjata  pamungkasnya, sehingga melarikan diri dan bersembunyi di sebuah bukit. Melihat itu Hanoman kemudian mengangkat sebuah gunung untuk menimbun tubuh Dasamuka. Sehingga tertimbun hidup-hidup oleh gunung yang kemudian hari disebut sebagai gunung Ungaran. 
Dasamuka yang tertimbun hidup-hidup di dasar gunung Ungaran setiap hari mengeluarkan rintihan berupa suara menggelegak yang sebenarnya berasal dari sumber air panas yang terdapat kawasan ini. Konon semasa hidupnya Dasamuka gemar minum minuman keras hingga siapapun yang datang ke Gunung Ungaran dengan membawa minuman keras akan membangkitkan nafsu Dasamuka. Apabila mencium aroma miras maka erangan Dasamuka makin menjadi-jadi, ditandai sumber air panas makin menggelegak. Kalau sampai tubuh Dasamuka bergerak-gerak bahkan bisa menimbulkan gempa kecil.
          Masyarakat setempat juga meyakini, Candi Gedong Songo dibangun oleh Ratu Sima untuk persembahan kepada Dewa dan tiap kali menghadapi masalah yang pelik Ratu Sima bersemedi di candi ini agar mendapatkan jalan keluar yang terbaik. 
Agaknya, candi ini mempunyai kekuatan yang sakti. Buktinya, kebesaran Ratu Sima diakui oleh lawan-lawannya. Bahkan beberapa kerajaan takluk dan tunduk di bawah kekuasan Ratu Sima
Sampai saat ini banyak pengunjung yang melakukan ritual khusus di candi tersebut. Mereka memohon berbagai pertolongan agar tujuannya dapat dikabulkan. Kabarnya, candi yang paling banyak dipakai untuk bersemedi adalah candi yang terletak di deretan paling atas. 
       Disamping itu ada keyakinan  jika kawasan candi songo ini ditunggu oleh makhluk gaib yang berjuluk Mbah Murdo sehingga sebelum memasuki wilayah Candi Gedong Songo, sebaiknya pengunjung meminta ijin terlebih dulu kepada Mbah Murdo, yang dipercaya sebagai penghuni gaib kawasan ini dengan cara menyampaikan  salam kepadanya, agar perjalanan atau ritual Anda tak terganggu. 
Diantara Candi ke III dan Candi ke IV, terdapat sumber air panas yang mengandung kadar belerang yang tinggi. Dipercaya bahwa air ini penuh tuah, terutama untuk menyembuhkan penyakit kulit dan sumber air ini dijaga oleh Nyai Gayatri, perempuan asal Pulau Dewata.. Semasa hidupnya Nyai Gayatri adalah dayang Ratu Sima, Ketika meninggal dunia, ia memilih menjaga mata air yang mengandung belerang itu. 

Terlepas dari legenda dan sejarah, bagaimanapun tempat ini memang merupakan lokasi yang cocok untuk merileks kan dan merefresh kan tubuh dengan udara nya yang bersih, suasana sejuk nan asri dan sentuhan nuansa adventure ( baik jalan kaki maupun berkuda ). Jadi tidak ada salahnya kalau rekan rekan berkunjung ke tempat ini........:-)

Rabu, 06 Januari 2016

Gunung Ungaran, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah

Sudah lama sekali saya ingin berbagi cerita tentang  wisata di daerah Kabupaten Semarang yaitu sebuah kota yang dekat dengan kota tempat saya tinggal ( sekitar 30 – 45 menit ), dengan tujuan agar bisa berbagi wawasan tentang betapa kaya raya dan Indahnya alam Indonesia. Meski banyak tempat di kabupaten ini yang sering saya kunjungi  tetapi karena belum ada niat atau keinginan ( jawa :  krenteg ) untuk menulis maka tidak ada dokumentasi apapun yang saya miliki.
Kebetulan di pertengahan bulan Desember 2015, saya diminta untuk mendampingi anak SMU di Semarang yang akan mengadakan kegiatan Pendakian Gunung Ungaran, maka  dengan senang hati tawaran itu saya terima apalagi sebelumnya pernah mendaki gunung ini.

Tentang Gunung Ungaran
Kawasan Gunung Ungaran terletak di Kabupaten Semarang dengan koordinat 7o11’LS 110o20’BT / 7,18oLS 110,33oBT. Disisi Utara terdapat kota Semarang, di Timur terletak kota Ungaran, di Selatan terdapat kota Ambarawa dan di Barat ada Kabupaten Kendal. Kawasan Gunung Ungaran terdiri dari 3 gunung yaitu Gunung Ungaran, Gunung Botak dan Gunung Gendol. Puncak tertinggi gunung Ungaran sekitar 2050 m dan terdapat sebuah tugu yang dibuat oleh batalyon “Banteng Raiders” dari Semarang. Dari Puncak tertinggi tersebut akan dapat terlihat :
           -          Arah Timur akan terlihat Rawa Pening
           -          Sebelah Tenggara, akan terlihat Gunung Telomoyo, Gunung Merbabu dan Gunung Merapi
           -          Arah Barat Daya akan terlihat Gunung Sumbing, Gunung Sundoro

Untuk melakukan pendakian, gunung ini memiliki 3 jalur yang dapat dicapai dari berbagai arah, yaitu:
1.       Jalur Jimbaran  
-       Untuk Transportasi :
·     Dari arah Solo, turun di Pasar Babadan, Ungaran lalu menyebrang jalan dan naik angkutan atau minibus jurusan Bandungan atau Sumowono turun di pasar jimbaran. Lalu jalan atau naik ojek menuju Pos Pendakian I Mawar.
·      Dari arah Semarang, dari terminal Terboyo naik bis jurusan bandungan atau Sumowono turun di pasar jimbaran. Lalu jalan atau naik ojek menuju Pos Pendakian I Mawar.
-    Untuk Jalur Pendakian adalah dari perjalanan dari Pos I Mawar dilanjutkan menuju Pos II atau Pos Bayangan. Apabila perjalanan dilakukan pagi atau siang hari, maka dari Pos Mawar, dapat terlihat Gunung Merbabu dan Gunung Telomoyo.
Perjalanan akan dimulai dengan suasana hutan pegunungan dengan suasana sejuk, kemudian medan mulai menanjak dengan vegetasi yang mulai terbuka. Dimana pada musim kemarau akan menjadi panas dan sedikit berdebu.
Selanjutnya medan masuk ke kawasan hutan lagi. Di perjalanan ini akan ditemui sungai dan air terjun kecil. Sebuah “bonus” pemandangan yang cukup menyenangkan.
Dari air terjun, dilanjutkan berjalan ke arah kanan dengan track yang menanjak dan kembali agak landai. Setelah melewati  kawasan hutan sejauh 1 km maka akan sampai di perkebunan kopi Sikendil. Di lokasi inii terdapat pondok dan bak penampungan air yang menyerupai kolam renang.
Setelah sampai percabangan jalan, ambil arah kekiri yaitu menuju puncak sedangkan lurus adalah jalur menuju Babadan, Ungaran.
Waktu tempuh lewat jalur ini adlah sekitar 8 jam.


          2.   Jalur Gedong Songo
-       Untuk Transportasi :
·  Dari arah Solo, turun di Pasar Babadan, Ungaran lalu menyebrang jalan dan naik minibus jurusan Sumowono turun di depan Gerbang  bawah dari Gedong Songo. Lalu jalan kaki atau naik ojek menuju Gerbang ( Loket ) Candi Gedong Songo
·     Dari arah Semarang, dari terminal Terboyo naik bis jurusan jurusan Sumowono turun di depan Gerbang  bawah dari Gedong Songo. Lalu jalan kaki atau naik ojek menuju Gerbang ( Loket ) Candi Gedong Songo
-  Untuk Jalur pendakiannya adalah melewati kawasan Candi Gedong Songo dengan deretan bangunan candi  Hindu dan ini akan menjadi “bonus” pemandangan dari jalur pendakian ini. Setelah melewati kawasan candi maka akan masuk ke  kawasan hutan yang cukup lebat serta jalan yang licin, apalagi  bila turun hujan. Sehingga pendaki diharapkan untuk selalu waspada karena banyak percabangan yang akan menuju ke jurang atau ke jalur pendakian lainnya.
Apabila pendakian dilakukan pagi atau siang hari, maka jalur ini akan didapatkan suasana hutan pegunungan yang nyaman dengan pemandangan tebing yang indah meskipun dengan  track yang cukup menanjak yang cukup panjang.
Setelah sekitar setengah perjalanan, maka kita akan mendapat  “bonus” lagi berupa pemandangan indah ke arah rawa pening dan gunung Merbabu.
Waktu tempuh dari jalur ini adalah sekitar 5 jam.

      3.   Jalur Medini
-    Dari arah Semarang, di Terminal Terboyo naik bis Jurusan Cangkiran, turun di terminal Cangkiran selanjutnya naik ojek ke Desa Medini.
Untuk jalur ini, lebih disarankan memakai kendaraan pribadi ( mobil atau motor ) karena belum ada angkutan yang menuju tempat tersebut.
-  Untuk jalur pendakiannya adalah dari Desa Medini menuju dusun Promasan, sebuah dusun di tengah perkebunan teh dengan hanya ada 25 rumah. Waktu tempuh desa Medini ke dusun Promasan kurang lebih 2 jam.  Sebaiknya istirahat dulu di dusun ini. Ada lapangan untuk mendirikan tenda, mushola, MCK dan warung kopi, bahkan sekarang ada persewaan tenda juga.
Dari sini, pendakian dilanjutkan dengan melewati jalan di tengah perkebunan teh. Di ujung perkebunan teh, akan bertemu hutan cemara dan lamtoro. Setelah berada di  pertemuan jalur, ambillah jalur lurus karena jalur kiri adalah jalur dari arah pertigaan.
Apabila ingin langsung ke Puncak dan tidak ingin ke Dusun maka dari pertigaan, ambillah jalur kekiri. Waktu tempuh dari pertigaan atau dari dusun Promasan menuju puncak sekitar 2 jam dengan medan yang cukup terjal dan tak jarang kita harus memanjat batu dengan tinggi sekitar 80 cm.
Separuh jalan  akan bertemu dengan tebing tebing batu dengan tinggi 20 meteran dan padang savana ( Alang – Alang ). Siang hari, disini sangat panas dan berangin kencang karena tidak adanya pohon yang besar tumbuh.
Disarankan agar mendaki disaat malam atau pagi sekali, selain untuk menghemat air minum juga agar terhindar dari terik matahari yang dapat membakar kulit.
Jalur disini meminta kita untuk waspada, karena jalur yang terjal,  berbatu besar dan licin.
Apabila sudah sampai di hutan kecil yang diapit oleh 2 punggung bukit maka berarti puncak gunung Ungaran sudah dekat. Di atas hutan akan ketemu tebing terjal, jalan setapak dengan  bagian tengah tebing menuju arah kiri kemudian berbelok ke kanan dan  sampailah ke puncak Ungaran dengan

Cerita Pendakian
Nah, untuk pendakian Gunung ungaran seperti yang saya ceritakan di  atas maka  rombongan kami memilih jalur medini.
Dari Semarang, jam 8.00 pagi rombongan menuju ke desa Medini dengan mengendarai beberapa mobil. Setelah sampai di desa Medini, kami melanjutkan perjalanan dengan jalan kaki menuju dusun Promasan, sebuah dusun di tengah perkebunan teh dengan hanya ada 25 rumah . Perjalanan kaki selama kurang lebih 2 jam ini dengan melewati perbukitan dengan kebun teh di kanan dan kiri jalan. Terasa sangat menyejukkan mata apalagi ditambah udara yang mulai terasa dingin, benar benar memberikan oksigen yang segar buat paru paru dan memberikan nuansa adventure yang cukup menarik.
        Di tengah perkebunan teh ini ada tempat wisata Goa Jepang. Yaitu sebuah Goa dengan 3 lobang besar sebagai pintu dan ventilasi, panjang lorong sekitar 150 meter dengan ruangan di sisi kiri kanannya, yang dibuat pada masa pendudukan Jepang dan di gunakan sebagai basis pertahanan. Apabila ingin memasuki goa ini sebaiknya membawa senter dan sepatu boot, karena disamping gelap juga lantainya licin
Juga ada Candi Promasan yaitu sebuah pemandian umum terbuka. Terdapat beberapa patung kuno disekitar pemandian ini. Mitosnya adalah yang mandi disini bisa awet muda. Tertarik untuk menjadi muda ????  :-)
      Sampai Dusun Promasan, rombongan beristirahat, makan dan MCK di salah satu rumah penduduk yang sudah dibooking untuk disewa sebelumnya.
Hujan deras yang turun sejak sore hari, Alhamdulillah jam 2.30 sudah reda. Setelah melakukan persiapan sebentar maka sekitar jam 3.00 dini hari, rombongan mulai berangkat dengan di dampingi mas jabrik, seorang pemandu,  sedangkan saya dengan 1 orang teman berada di paling belakang sebagai penyapu ranjau.
Beberapa kali rombongan harus berhenti karena lelah dan minum, maklumlah rombongan ini terdiri dari anak anak SMU yang belum pernah naik gunung, tetapi meskipun lelah ternyata semangat mereka pantas diacungi jempol.
      Rombongan sempat terpecah menjadi 3 bagian yaitu yang staminanya bagus bisa mengikuti langkah pemandu, yang stamina setengah bagus berada di tengah dengan jarak sekitar 50 meter dari rombongan pertama  dan yang terakhir adalah rombongan dengan modal semangat tinggi (...heheheh... ) yang tertinggal  hmpir 100 meter dari rombongan di tengah.
Namun pelan tapi pasti, rombongan pun sampai semua di  Puncak Gunung Ungaran dan semua terlihat tersenyum gembira karena semua sempat mendapatkan momen “Sun Rise”. Sebuah momen yang selalu dicari dan ditunggu oleh para pendaki gunung, meskipun wajah mereka terlihat lelah plus ngantuk...:-D
Bagaimana dengan saya??......Pastinya saya lebih gembira lagi karena bisa mendampingi dan mengantarkan mereka mencapai puncak dalam kegiatan mendaki Gunung Ungaran apalagi melihat mereka bersemangat dan bergembira.
      Tetapi tanggung jawab ini belum lah selesai karena perjalanan pulang menuruni gunung juga bukan sebuah perjalanan yang mudah. Setelah cukup berfoto foto, maka sekitar jam  7.15 rombongan mulai menuruni puncak dan jam 10.00 sudah sampai di base camp.
Setelah istirahat, mandi dan makan, maka rombongan mulai berjalan lagi dari basecamp di dusun Promasan menuju desa Medini, dimana mobil mobil penjemput yang akan mengantarkan kami pulang sudah menanti.

       Puncak Gunung di manapun memang mempunyai keindahan dan daya tarik tersendiri bagi pendakinya dan Gunung Ungaran ini adalah salah satu Gunung yang cukup layak untuk didaki apalagi buat yang pertama kali mendaki ( Pemula ) meskipun yang sudah Senior pun juga masih suka mendaki gunung ini. Karena nuansa hutan, sejuknya udara dan pengalaman adventure nya memang merupakan daya tarik tersendiri.  Apalagi ketika sudah berada di Puncak nya... waooww....sangat indah dan eksotis...bahkan untuk sementara akan lupa dengan semua hutang...heheheh....

Bro Sist, Come On....Let’s Visit to Ungaran Mountain and Find sense of adventure...