Sabtu, 07 Mei 2016

Ramadhan di Negeri Eiffel

Ramadhan di Negeri EiffelAssalamu’alaikum Wr.Wb.

     Setiap masuk bulan Ramadhan, saya menjadi teringat pengalaman ketika bulan Ramadhan tahun 2015 yang lalu yaitu ketika kami diberi kesempatan dan mendapat undangan untuk menghadiri dan presentasi di sebuah Konferensi di  Politech Orleans, Perancis.
Konferensi di adakan pada tanggal 29 Juni – 2 Juli 2015, dimana tanggal itu berada di tengah-tengah bulan Ramadhan 1437 H yang  jatuh pada tanggal 17 Juni – 16 Juli 2015. Maka persiapanpun mulai dilakukan dengan berkunjung dan bertanya ke salah seorang sesepuh yang memiliki banyak wawasan yaitu simbah Google...😁😁
   Setelah browsing tentang banyak hal terutama mengenai suasana puasa dan waktu berbuka di negara tersebut, ternyata waktu puasanya  sekitar 18 jam ( 4 jam lebih lama dari waktu puasa di Indonesia) dengan iklim Eropa yang lagi musim Panas dan suasana Ramadhan yang pasti berbeda dengan negara yang mayoritas muslim, sempat terlintas di pikiran untuk tidak menghadiri undangan tersebut atau kalaupun harus berangkatpun akan menjadi musafir saja dan mengganti dengan puasa di hari lain. Apalagi pengajuan Visa Schengen di TLS ( agen yang ditunjuk oleh Perancis untuk pengurusan Visa ) sampai 5 hari sebelum keberangkatan belum ada kabarnya alias kabar kabur.
Tapi ternyata pada 3 hari sebelum tanggal keberangkatan atau 5 hari sebelum konferensi diadakan, ada kabar dari TLS bahwa pengajuan visa telah di approve dan diminta segera mengambilnya.
Hal ini membuat berpikir, mungkin ini adalah jalan yang sudah ditentukan Allah agar tetap berangkat. Dan sebagai rasa syukur atas karunia tersebut tersebut maka kami membulatkan niat untuk tetap berpuasa Ramadhan apapun yang akan terjadi dan apapun kondisinya. Pokoknya Bismillah aja....Ku kan Puasa dengan Bismillah (menyadur  judul Film Kulamar Kau dengan Bismillah)....😁😁
      Tanggal 27 Juni 2015 siang waktu Indonesia, berangkat dari Semarang menuju Singapore. Waktu tempuh Semarang ke Singapura adalah 2 jam dan selisih waktunya adalah 1 jam lebih awal dari Waktu Indonesia Bagian Barat. Di Singapura, masih bisa berbuka puasa karena waktu berbuka di Singapura adalah sekitar jam 18.30 dan pesawat menuju Dubai berangkat pada jam 22.00.
Perjalalanan Singapura ke Dubai memerlukan waktu sekitar 7 jam dengan selisih waktu mundur 5 jam dari waktu Singapura. Tiba di Dubai  di tanggal 28 Juni 2015 sekitar jam 01.00, menurut simbah Google ( lagi ), Dubai mempunyai waktu Fajr jam 4.00.  Jadi tinggal dikurangi sekitar 10 menit atau sekitar 10 ayat dari waktu Fajr adalah waktu Imsak. Sehingga masih mempunyai waktu Sahur sampai jam 03.50
Oleh karena itu, beruntunglah orang yang berada di Indonesia karena mempunyai waktu Imsak yang membantu mengingatkan batas waktu sahur. 
         Jam  4.00 waktu Dubai,  pesawat yang menuju Perancis berangkat dan perjalanan akan memakan waktu selama 7 jam. Disinilah,  ujian puasa dimulai karena selama di pesawat makanan yang terlihat lezat disajikan dan minuman beraneka rasa juga selalu ditawarkan kepada seluruh penumpang. Coba bayangkan, Apa tidak cleguk-cleguk sodara-sodara..?  Apa penghuni perut tidak langsung bangun & berdemo? ..😁😁😁
Sempat saya lihat, beberapa orang dengan wajah Timur Tengah yang menjadi penumpang juga ikut menikmati hidangan yang disajikan. Terlintas pikiran su’udzon kalau mereka tidak menghargai bulan puasa tapi pikiran itu segera saya singkirkan dan berpikir bahwa mungkin mereka sedang menjadi musafir atau mungkin mereka memang bukan muslim.
Jadi teringat kalimat dari seorang ustadz ketika dulu saya belajar mengaji yang mengatakan bahwa “Agama Islam bukan milik orang Arab tetapi milik orang yang mendapatkan hidayah Allah “.
       Agar demo para penghuni perut tidak berlanjut dan agar jakun tidak cleguk-cleguk karena selalu ditawari oleh pramugari, kami menempelkan sticker “Dont Disturb” di seat dan mulai memejamkan mata untuk istirahat sambil berwirid.  Tiba di Bandara Charles De Gauli, Prancis di tanggal 28 Juni 2015 sekitar jam 09,00 dan selisih waktu 3 jam dari Dubai.
Waktu Maghrib di Perancis adalah sekitar jam 22.00, masih 13 jam lagi untuk berbuka puasa. Sehingga hari pertama kami di Prancis, waktu berpuasa adalah sekitar 20 jam tetapi dengan ijin Allah kami bisa melalui nya. Alhamdulillah...🙏
      Oh iya, ada cerita yang menarik ketika kami keluar Garbarata ( Belalai Gajah )  dari pesawat menuju pemeriksaan Imigrasi yaitu polisi yang berjaga di pintu keluar Garbarata membiarkan orang-orang bertampang bule yang berjalan di depan kami untuk lewat, tetapi kami dihentikan dan diminta menunjukkan Paspor. Dan setelah setelah melihat paspor, mereka tersenyum,  acungkan jempol dan berkata ’Good’. Meski tidak paham dengan maksud acungan jempol dan kata tersebut, kami pun melanjutkan ke area imigrasi. Apa karena wajah asia ini ya??... 😁😁.....EGP ( Emang Gue Pikirin ), yang penting lancar aja lah.
Welah....ternyata apa yang kami alami itu tadi ternyata belum seberapa, karena terlihat seorang kulit hitam yang yang sampai dikejar dan ditanya-tanya ( mungkin lebih lama dari kami ), padahal dia sudah hampir sampai di depan pemeriksaan Imigrasi.
Agak ngelantur nich..Oke, kita lanjut kan aja cerita nya ya....
       Dari Bandara Charles de Gaulli kemudian naik kereta MRT ( Mass Rapid Transit ) menuju stasiun Gare D’Austeritz lalu ganti jurusan ke Stasiun Gare de Orleans
Di hari kedua yaitu tanggal 29 Juni 2015 adalah sahur pertama di Prancis. Disini mempunyai waktu sahur sampai jam  04.00 karena waktu subuh di Perancis sekitar jam itu dan waktu maghrib atau berbuka puasa sekitar jam 22.00.  Jadi waktu berpuasa  sekitar 18 jam.
Hampir jam 22.00. Tunggu Buka Puasa
Di hari ini juga, pertama kali beraktifitas dari pagi hari yaitu sahur, sholat subuh dilanjut menuju Politech Orleans dan beraktivitas disana. Ini adalah pertama kali merasakan sensasi berpuasa dan godaan ketika beraktivitas di negeri  Parncis. Godaan dari bau makanan, cuaca musim panas dan cewek dengan pakaian sexy. Sepertinya yang terakhir adalah godaaan yang terberat buat kami...😁😂😂...Kalau dipandang mengurangi pahala puasa tapi kalau gak dipandang koq mubadzir ....😂😁😂......Hhushh...Ingat!! lagi puasa bozz.....ooh iyaa.. Astaghfirullah hal Adzim..
Cerita kegiatan lain selama di Negeri ini, akan saya tulis di judul artikel lain aja,.biar tidak melenceng dari topik....karena si topik lagi tidur...,😁😁..
      Setelah semua kegiatan dan semua misi, baik yang formal maupun yang rahasia sudah selesai, kamipun bersiap-siap  untuk kembali ke Indonesia....Mak’e, aku pulaang....😁😁😁
Tanggal 6 Juli sekitar jam 13.00 waktu Prancis, pesawat take off menuju Abu Dabi. Saya merasa selama perjalanan pulang ini,  kasih, berkah dan nikmat Allah banyak tercurah dan mengalir. Bagaimana tidak??  Kalau perjalanan berangkat dari Indonesia ke Prancis, waktunya berpuasanya mundur menjadi lebih lama tetapi perjalanan dari Prancis ke Indonesia adalah sebaliknya yaitu maju menjadi lebih cepat. Karena memang perbedaaan waktu seperti yang sudah saya jelaskan di atas.
Lalu, makanan yang selama perjalanan berangkat hanya bisa dilihat tetapi saat pulang ini bisa dinikmati dalam perjalanan Prancis ke Abu Dabi dan di perjalanan dari Abu Dabi ke Singapura pun masih bisa menikmati makan sahur. 
        Naah....soal makan sahur yang ini ada cerita menarik yaitu salah seorang pramugari mengajak kami bicara dengan bahasa melayu ketika masuk pesawat, dari logatnya mungkin dia dari Malaysia. Ternyata wajah kami memang wajah Asia banget... Bravo Asia...heheheh... Dia itulah yang membangunkan dan mengantar makanan untuk sahur. Trimaa kasiiih kak Roooss....betul3x...😁😁😁..
Sampai di Singapura tanggal 7 Juli 2015 sekitar jam 9.00, lalu transiit menuju Jakarta dan lanjut transit lagi ke Semarang.
Dan ketika sampai Semarang sekitar jam 18.00, setelah membatalkan puasa dengan minum maka ayam dan bebek  goreng nya bu Kliwon di Kokrosono Semarang, bisa dinikmati juga. Maknyus rasanyo...Tambo ciek....😁😁...

Puasa adalah sebuah kegiatan religi yang hanya kita dan Allah yang tahu, bahkan pahalanya pun hak prerogatif Nya dan tidak ada seorangpun manusia yang tahu cara menghitungnya. Tetapi pengalaman berpuasa ketika melakukan perjalanan jauh, musim yang berbeda  dan berada di negara yang secara kultur jauh dari ciri negara muslim tentunya memberikan pengalaman yang sangat unik dan menarik bagi saya, baik pengalaman fisik maupn pengalaman hati.
     Mas bro, mbak sis, pakde, bude, om, tante....tulisan ini hanyalah sebuah tulisan untuk sekedar berbagi cerita, tidak ada sedikitpun maksud untuk pamer, sombong atau riya’. Yah...anggap aja tulisan ini  seperti cerita ketika kita sedang berkumpul dan ngobrol dalam suasana yang akrab sambil minum kopi dan makan pisang goreng di teras rumah.


Wassalamu’alaikum Wr Wb