Senin, 25 Agustus 2014

Kawasan Bedugul, Tabanan - Bali



Kawasan Bedugul adalah obyek wisata di Bali yang berada di perbukitan yang sejuk. Obyek  ini  terletak di kawasan Bedugul, Desa Candikuning, Kecamatan Baturiti, Kabupaten Tabanan, Propinsi Bali. Jaraknya kurang lebih 45 km dari pusat kota kabupaten dan Jaraknya dari kota Denpasar sekitar 50 km ke arah utara mengikuti jalan raya.
Berada di jalur jalan propinsi yang menghubungkan Denpasar - Singaraja serta letaknya yang dekat dengan Kebun Raya Eka Karya menjadikan tempat ini menjadi salah satu andalan wisata pulau Bali
raya
    Di Kawasan Bedugul ini terdapat Danau Beratan  yang terletak paling timur di antara dua danau lainnya yaitu Danau Tamblingan dan Danau Buyan, yang merupakan gugusan danau kembar di dalam sebuah kaldera besar. Disamping mudah dijangkau Danau Beratan juga menyediakan beragam pesona dan akomodasi yang memadai.
    Di tengah danau terdapat sebuah Pura yaitu Pura Ulun Danu. , nama pura diambil dari kata danau.  Tempat ini merupakan tempat pemujaan kepada Sang Hyang Dewi Sri sebagai pemberi kesuburan. Sejarah Pura Ulun Danu Beratan diketahui dari arkeologi dan data sejarah yang terdapat dalam lontar babad Mengwi. Di sebelah kiri halaman depan pura Ulun Danu Beratan terdapat sebuah sarkopagus dan sebuah papan batu, yang berasal dari masa tradisi megalitik, sekitar 500 SM. Kedua artefak tersebut sekarang ditempatkan masing-masing di atas Babaturan atau teras diperkirakan lokasi di mana Pura Ulun Danu Beratan, telah digunakan sebagai tempat untuk melaksanakan kegiatan ritual sejak jaman megalitik.
    Dalam lontar Babad Mengwi tersirat menguraikan bahwa I Gusti Agung Putu sebagai pendiri kerajaan Mengwi mendirikan Pura di pinggir Danau Beratan, sebelum beliau mendirikan Pura Taman Ayun Dalam lontar tersebut tidak disebutkan kapan beliau mendirikan Pura Ulun Danu Beratan, namun yang terdapat dalam lontar itu adalah pendirian Pura Taman Ayun yang upacaranya berlangsung pada hari Anggara Kliwon Medangsia tahun Saka Sad Bhuta Yaksa Dewa yaitu tahun caka 1556 atau 1634 M. Berdasarkan uraian dalam lontar Babad Mengwi tersebut diketahui bahwa Pura Ulun Danu Beratan didirikan sebelum tahun saka 1556, oleh I Gusti Agung Putu. Semenjak pendirian pura tesebut termasyurlah kerajaan Mengwi, dan I Gusti Agung Putu digelari oleh rakyatnya " I Gusti Agung Sakti". Pura Ulun Danu Beratan terdiri dari 4 komplek pura yaitu:
-       Pura Lingga Petak
-       Pura Penataran Pucak Mangu
-       Pura Terate Bang
-       Pura Dalem Purwa berfungsi untuk memuja keagungan Tuhan
     dalam manifestasinya sebagai Dewa Tri Murti, guna memohon
     anugerah  kesuburan,  kemakmuran,  kesejahteraan  manusia
     dan lestarinya alam semesta.
Kalau anda berkunjung untuk wisata ke Pulau Bali, kawasan ini cukup "recomended" sebagai destinasi yang layak untuk dikunjungi ....:-)


Senin, 30 Juni 2014

Pulau Ubin, Singapura



Pulau Ubin ialah pulau kecil (seluas + 10 km²) yang terletak di timur laut pulau utama Singapura, di samping Pulau Tekong.. Menurut orang-orang Melayu, pulau ini juga dikenal sebagai Pulau Batu Ubin. Batu-batu di pulau ini digunakan untuk membuat ubin lantai pada masa lalu dan dipanggil "Jubin", yang kemudian disingkat Ubin, sehingga di sini banyak tambang granit yang sudah ditinggalkan.
Untuk pergi ke tempat ini, anda pergi ke Changi Point Ferry Terminal lalu naik kapal kecil, yang maksimal penumpangnya 12 orang, dengan tujuan Pulau Ubin. Ongkosnya SGD 2,5 per orang dan SGD 2,5 per sepeda. Jadi jika Anda membawa sepeda sendiri, anda harus bayar ongkos tambahan untuk sepeda Bagi anda tidak membawa sepeda sendiri, tidak perlu kuatir, karena banyak jasa sewa sepeda disini. Untuk sewa sepeda, anda perlu merogoh kocek sebesar SGD 10 per sepeda. Kalau datang rombongan, lebih murah jika menyewa sepeda tandem
   Pulau ini disebut kampung terakhir di Singapura, sehingga kehidupan kampung masih begitu terasa di sini. Nuansa alam yang damai, udaranya yang bersih dan suara bising kendaraan bermotorpun jarang terdengar di sini. Makanan di sinipun lebih lezat ketimbang makanan yang ada di kota, mungkin karena sayurannya masih segar dan dagingnyapun bukan hasil karbitan seperti daging yang dihasilkan oleh peternakan komersil yang canggih.
Biasanya yang datang ke sini adalah turis-turis lokal atau orang-orang yang bekerja di Singapore yang ingin refreshing dan melepas stress dari hiruk pikuk kehidupan kota. Mereka ingin santai menikmati nuansa desa di Pulau Ubin ini dengan bersepeda mengeliling Pulau Ubin ini sambil menghirup udaranya yang segar. Ada juga yang datang untuk camping/berkemah di sini atau sekedar berjalan-jalan santai sambil berburu objek foto alam yang fantastis..
  Ketika kami berkeliling naik sepeda, banyak buah durian yang berserakan di pinggir jalan. Pikiran langsung membayangkan nikmatnya makan buah durian ( ...nyam...nyam....)..Wah, air liur kami langsung menetes. Weeeiitsss...tapi harus tanya aturan disini dulu sebelumnya..Sekedar info, makan durian di Pulau Singapura bisa kena denda SGD 500 atau sekitar 5 jutaan..apa gak “gurih banget” tuh....hehehe.  Setelah bertanya-tanya ke orang-orang, dimana pembelinya dan berapa harganya, kami mendapat info kalau yang berserakan itu adalah buah durian liar, maka......tanpa dikomando, tanpa basabasi dan tanpa permisi, kami langsung mencari durian yang besar dan layak konsumsi. Persis seperti anak kecil ketika berada di kebun durian..heheheh...Dan kejadian selanjutnya adalah Hajaaaarrrr Bleeehh.....hehehehe

Legenda dan Sejarah
   Legenda mengatakan bahwa Pulau Ubin terbentuk saat 3 binatang dari Singapura ( katak, babi dan gajah) menantang satu sama lain berlomba mencapai pesisir Johor. Binatang yang kalah akan berubah menjadi batu. Ketiganya menjumpai banyak kesulitan dan tak sanggup mencapai pesisir Johor. Oleh karena itu, secara bersama-sama gajah dan babi berubah menjadi Pulau Ubin sedangkan katak menjadi Pulau Sekudu atau Pulau Katak.
   Pertambangan granit membuat beberapa ribu pemukim pada 1960an tinggal disini, namun sekarang tinggal sekitar 1.000 penduduk. Pulau ini adalah salah satu dari sangat sedikitnya pulau lepas pantai di Singapura yang tetap dihuni.
Ketika ada wabah flu burung dari Malaysia, maka pada 3 Juni 2005, pemerintah Singapura memerintahkan bahwa seluruh petani yang memelihara unggas di pulau itu untuk dikapalkan ke tanah utama Singapura dan tinggal di perkebunan yang diakui pemerintah dari 17 Juni 2005. Dalam pertukaran itu, penduduk asli ditawari paket perumahan HDB, walau mereka dapat memilih tinggal di pulau itu.
Pulau Ubin merupakan salah satu wilayah terakhir Singapura yang telah dilindungi dari perkembangan kota, pemusatan pembangunan, dan sebagainya
Desa rumah dan dermaga kayu Pulau Ubin, penduduknya yang santai, margasatwanya yang kaya dan dilindungi, bekas pertambangan dan tanaman, dan sifat dasarnya yang tak tersentuh pada umumnya membuatnya jadi saksi terakhir "kampong" Singapura kuno yang ada sebelum masa industri modern dan rencana pengembangan.
Proyek pengembangan pemerintah pada pulau ini dalam beberapa tahun terakhir telah menjadi kontroversial, meskipun pada akhir pembahasan telah menemukan solusinya yaitu melalui pengembangan yang dikontrol pemerintah.
Walau pengembangan terakhir sudah dibatasi hanya untuk pelebaran jalan kecil untuk sepeda, bangunan pelindung untuk pejalan dan fasilitas untuk pengunjung, dan juga sudah dilakukan secara bijaksana, namun hal ini telah mengubah wajah dan alam Pulau Ubin dari tak tersentuh menjadi terencana, dan hal ini membuka jalan untuk pembangunan masa depan.
Masa depan pulau ini ada di tangan orang-orang Singapura, namun statusnya sebagai saksi gaya hidup kuno kemungkinan akan lenyap dengan generasi "kampung" terakhir.

Obyek Wisata
Meski pulau ini menarik perhatian untuk pembangunan, tetapi dalam tahun-tahun terakhir ini, banyak pengunjung dari Singapura datang ke Pulau Ubin untuk perkemahan musim panas anak-anak dan kegiatan di luar rumah. Dan jumlah pengunjungnya dari tahun ke tahun semakin meningkat.
Selain wisata alamnya, seperti Bersepeda, jalan santai, camping/berkemah, mengamati burung, foto alam, memancing dan trekking, ada satu obyek wisata yang terkenal di pulau ini yaitu Tanjung Chek Jawa. Disini ada karang / koral yang masih asli dan sudah ada 5.000 tahun yang lalu, dengan sejumlah margasatwa laut, seperti kelinci laut, gurita, bintang laut, ikan, bunga karang, sotong dan sebagainya
Pengunjung dapat mengelilingi pulau ini dengan bumboat 10 menit yang berjalan dari dermaga Changi Village. Harganya ialah SGD 2  per orang

Jika Sobat adalah orang yang suka dengan wisata petualang, maka tidak akan rugi klo mengunjungi tempat ini ketika berada di negara Singapura.......:-)


Sabtu, 19 April 2014

Pantai Indrayanti atau Pulang Syawal ( Pulsa ), Gunung Kidul, Yogyakarta


Pantai Indrayanti atau Pantai Pulang Syawal atau Pantai Pulsa adalah salah satu pantai yang berada di Kecamatan Tepus, Kabupaten Gunung Kidul ( Timur ), Daerah Istimewa Yogyakarta dan bersebelahan dengan Pantai Sundak. Penyebutan nama Pantai Indrayanti sempat menjadi kontroversi karena Indrayanti bukanlah nama pantai, melainkan nama pemilik cafe dan restoran yang terpampang di depan cafe dan restoran miliknya, sehingga banyak masyarakat menyebut pantai ini dengan nama Pantai Indrayanti. Sedangkan Pemerintah Daerah Kabupaten Gunung Kidul memberi nama Pantai Pulang Syawal atau Pantai PulSa. Namun nama Pantai Indrayanti jauh lebih populer dan lebih sering disebut daripada Pantai Pulang Syawal. Terlepas dari pro dan kontra, mari kita membahas mengenai obyekwisata pantai ini aja yaa... :-)
Untuk menuju Lokasi ini, dibutuhkan waktu sekitar 2 jam dari Kota Yogyakarta. Setelah sampai di Wonosari ada 2 jalan menuju pantai ini:
1.      Melalui jalur Selatan yang melewati  Pantai  Baron, Pantai  Kukup, Pantai 
      Krakal, Pantai Sundak dan ke timur sampai ke lokasi.
2.      Melalui pertigaan dari  Wonosari  mengambil jalur  ke kiri  arah  ke  Pantai 
      Sundak, Pantai Siung dan Pantai Wediombo.
Jalan menuju lokasi Pantai sudah cukup baik tetapi harus berhati - hati karena medan yang naik turun melewati Perbukitan Sewu. Untuk sampai lokasi, harus menggunakan kendaraan pribadi karena belum ada kendaraan umum yang melayani rute tersebut.
Pengelola Pantai disini terlihat mencoba konsep yang berbeda dari pantai – pantai yang ada di Kabupaten Gunung Kidul yaitu dengan memberikan sentuhan modern ala pantai di Bali. Hal ini bisa terlihat dari penataan lokasi pantai dan sarana prasarana yang disediakan. Restoran dan Cafe tertata rapi di sepanjang pinggir pantai, payung warna warni yang bisa disewa berada di tepi pantai, JetSky yang bisa di sewa, Cottage yang ( saat ini ) berjumlah tujuh terletak di sekitar pantai, kios dan bagi yang mau membawa oleh-oleh, di lokasi ini juga terdapat toko dan kios souvenir khas pantai ini. Fasilitas umum seperti Parkir, Mushola dan Toilet  juga bisa ditemukan di oantai ini.
     Di Pantai ini, wisatawan akan dimanjakan dengan pasir Putih yang membentang dari timur ke barat dan juga dengan keindahan dan kebersihan sepanjang garis pantai ini. Pantai ini benar-benar di jaga kebersihannya jadi....bagi sobat yang suka buang sampah sembarangan, silahkan sediakan uang 10 ribu yang banyak, karena pengelola tak segan-segan menjatuhkan denda sebesar 10 ribu untuk tiap sampah yang dibuang oleh wisatawan secara sembarangan...... :-D
     Tiket untuk masuk ke lokasi adalah sebesar 5 ribu, baik untuk mobil atau minibus. Harga makanan di restoran atau cafe yang menyediakan menu seafood dan ayam bakar/goreng serta minuman kelapa muda dll, sekitar 10 ribu – 100 ribu. Untuk oleh-oleh, harga bervariasi tergantung jenis nya. Bagi yang ingin menikmati suasana malam di pantai, bisa menyewa Cottage dengan harga 300 ribu - 700 ribu per malam
Apabila sobat-sobat ingin menikmati wisata pantai dengan nuansa sentuhan modern ala di Bali, tidak ada salahnya untuk datang ke Pantai Indrayanti atau Pantai Pulang Syawal atau Pantai Pulsa..... :-)