Minggu, 28 April 2013

Masjid Agung Jawa Tengah ( MAJT ), Semarang - Jawa Tengah





Masjid Agung Jawa Tengah adalah Masjid yang terletak di jalan Gajah Raya, Kelurahan Sambirejo, Kecamatan Gayamsari, Kota Semarang Jawa Tengah. Masjid ini sangat megah dengan luas lahan mencapai 10 Hektar dan luas bangunan induk untuk shalat 7.669 meter persegi tersebut bargaya arsitektur perpaduan antara Jawa, Jawa Tengah dan Yunani

Sejarah
Masjid Agung Jawa Tengah ini dibangun pada hari Jumat, 6 September 2002 yang ditandai dengan pemasangan tiang pancang perdana yang dilakukan Menteri Agama Ri, Prof. Dr. H. Said Agil Husen al-Munawar, KH. MA Sahal Mahfudz dan Gubernur Jawa Tengah, H. Mardiyanto, akhirnya Masjid Agung Jawa Tengah Ini diresmikan oleh Presiden Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono pada tanggal 14 November 2006.
Meskipun baru diresmikan pada tanggal 14 Nopember 2006, namun masjid ini telah difungsikan untuk ibadah jauh sebelum tanggal tersebut. Masjid megah ini telah digunakan ibadah shalat jum’at untuk pertama kalinya pada tanggal 19 Maret 2004 dengan Khatib Drs. H. M. Chabib Thoha, MA, Kakanwil Depag Jawa Tengah.
Di kompleks Masjid Agung Jawa Tengah Semarang ini terdapat Museum Perkembangan Islam Jawa Tengah di Tower Asmaul Husna Lantai 2 dan 3, Hotel Graha Agung di sisi Utara dan resto yang memiliki view terbaik di Kota Semarang ini di Tower Asmaul Husna Lantai 18
Masjid Agung Jawa Tengah merupakan salah satu masjid termegah di Indonesia. Masjid dengan arsitektur indah ini mulai dibangun pada tahun 2001 dan selesai pada tahun 2006. Kompleks masjid terdiri dari bangunan utama seluas 7.669 m2 dan halaman seluas 7.500 m2.  
Masjid yang mampu menampung jamaah tak kurang dari 15.000 ini diresmikan oleh Presiden Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono, pada tahun 2006. Upacara peresmian ditandai dengan penandatanganan batu prasasti setinggi 3,2 m dan berat 7,8 ton yang terletak di depan masjid. Prasasti terbuat dari batu alam yang berasal dari lereng Gunung Merapi

Selain sebagai tempat ibadah, Masjid Agung Jawa Tengah juga merupakan obyek wisata terpadu pendidikan, religi, pusat pendidikan, dan pusat aktivitas syiar Islam. Dengan berkunjung ke masjid ini, pengunjung dapat melihat keunikan arsitektur masjid yang merupakan perpaduan antara arsitektur Jawa, Roma dan Arab.

Arsitektur
Masjid Agung Jawa Tengah dirancang dalam gaya arsitektural campuran Jawa, Islam dan Romawi. Diarsiteki oleh Ir. H. Ahmad Fanani dari PT. Atelier Enam Jakarta yang memenangkan sayembara desain MAJT tahun 2001. Bangunan utama masjid beratap limas khas bangunan Jawa namun dibagian ujungnya dilengkapi dengan kubah besar berdiameter 20 meter ditambah lagi dengan 4 menara masing masing setinggi 62 meter ditiap penjuru atapnya sebagai bentuk bangunan masjid universal Islam lengkap dengan satu menara terpisah dari bangunan masjid setinggi 99 meter. Arsitektur Jawa terlihat pada beberapa bagian, misalnya pada bagian dasar tiang masjid menggunakan motif batik seperti tumpal, untu walang, kawung, dan parang-parangan.

Ciri arsitektur Timur Tengah (Arab) terliat pada dinding masjid dinding masjid yang berhiaskan kaligrafi. Selain itu, di halaman Masjid Agung Jawa Tengah terdapat 6 payung hidrolik raksasa yang dapat membuka dan menutup secara otomatis yang merupakan adopsi arsitektur bangunan Masjid Nabawi yang terdapat di Kota Madinah.

Gaya Romawi terlihat dari bangunan 25 pilar dipelataran masjid. Pilar pilar bergaya koloseum Athena di Romawi dihiasi kaligrafi kaligrafi yang indah, menyimbolkan 25 Nabi dan Rosul, di gerbang ditulis dua kalimat syahadat, pada bidang datar tertulis huruf Arab Melayu “Sucining Guno Gapuraning Gusti“.

Fasilitas Masjid 
Selain bangunan utama masjid yang luas dan indah, terdapat bangunan pendukung lainnya. Bangunan pendukung itu di antaranya: auditorium di sisi sayap kanan masjid yang dapat menampung kurang lebih 2.000 orang. Auditorium ini biasanya digunakan untuk acara pameran, pernikahan dan kegiatan-kegiatan lainnya. Sayap kiri masjid terdapat perpustakaan dan ruang perkantoran yang disewakan untuk umum. Halaman utama masjid yang terdapat 6 payung hidrolik juga dapat menampung jamaah sebanyak 10.000 orang.
Keistimewaan lain masjid ini berupa Menara Asmaul Husna (Al Husna Tower) dengan ketinggian 99 m. Menara yang dapat dilihat dari radius 5 km ini terletak di pojok barat daya masjid. Menara tersebut melambangkan kebesaran dan kemahakuasaan Allah. Dipuncak menara dilengkapi teropong pandang. Dari tempat ini pengunjung dapat menikmati udara yang segar sambil melihat indahnya Kota Semarang dan kapal-kapal yang sedang berlalu-lalang di pelabuhan Tanjung Emas.
Di masjid ini juga terdapat Al qur`an raksasa tulisan tangan karya H. Hayatuddin, seorang penulis kaligrafi dari Universitas Sains dan Ilmu Al-qur`an dari Wonosobo, Jawa Tengah. Tak hanya itu, ada juga replika beduk raksasa  yang dibuat oleh para santri Pesantren Alfalah Mangunsari, Jatilawang, Banyumas, Jawa Barat.
Di area Masjid Agung Jawa Tengah terdapat berbagai macam fasilitas seperti perpustakaan, auditorium, penginapan, ruang akad nikah, pemandu wisata, museum kebudayaan Islam, cafe muslim, kios-kios cenderamata, buah-buahan, dan lain-lain. Selain itu, terdapat juga berbagai macam sarana hiburan seperti air mancur, arena bermain anak-anak, dan kereta kelinci yang dapat mengantarkan pengunjung berputar mengelilingi kompleks masjid ini.
Untuk memasuki kawasab Masjid Agung Jawa Tengah, pengunjung tidak dipungut biaya. Namun, jika pengunjung ingin memasuki area tertentu seperti Menara Asmaul Husna, pengunjung diwajibkan membayar Rp 3.000 per orang untuk jam kunjungan antara pukul 08.00—17.30 WIB. Dan apabila pengunjung datang pada jam 17.30—21.00 WIB tarif tersebut meningkat menjadi Rp 4.000 per orang. Bagi pengunjung yang ingin menggunakan teropong yang terdapat di Menara Asmaul Husna itu, maka pengunjung harus mengeluarkan ongkos tambahan sebesar Rp 500,- per menit. Pada saat liburan, masjid banyak di kunjungi wisatawan yang berasal dari berbagai daerah. Bahkan beberapa turis manca negara, khususnya muslim banyak yang melunagkan waktu berkunjung ke masjid ini untuk beribadah sekaligus berwisata.  

 



Sabtu, 13 April 2013

Vihara Buddhagaya, Semarang, Jawa Tengah, Indonesia

Vihara Buddhagata Watugong adalah sebuah Vihara yang diresmikan pada 2006 lalu dan dinyatakan MURI sebagai pagoda tertinggi di Indonesia. Vihara Buddhagaya Watugong terletak 45 menit dari pusat kota Semarang. Vihara ini memiliki banyak bangunan dan berada di area yang luas.
Salah satu ikon yang paling terkenal di vihara ini adalah Pagoda Avalokitesvara (Metta Karuna), dimana didalamnya terdapat Buddha Rupang yang besar. Pagoda Avalokitesvara yang memiliki tinggi bangunan setinggi 45 meter dengan 7 tingkat, yang bermakna bahwa seorang pertapa akan mencapai kesucian dalam tingkat ketujuh. Bagian dalam pagoda berbentuk segi delapan dengan ukuran 15 x 15 meter.
Mulai tingkat kedua hingga keenam dipasang patung Dewi Kwan Im (Dewi Welas Asih) yang menghadap empat penjuru angin. Hal ini bertujuan agar sang dewi memancarkan kasih sayangnya ke segala arah mata angin.
Pada tingkat ketujuh terdapat patung Amitaba, yakni guru besar para dewa dan manusia. Dibagian puncak pagoda terdapat Stupa untuk menyimpan relik (butir-butir mutiara) yang keluar dari Sang Buddha.
Bagian depan pagoda juga terdapat patung Dewi Welas Asih serta Sang Buddha yang duduk dibawah pohon Bodi.
Di Komplek Vihara juga terdapat cotage untuk para tamu menginap. Tepat di depan cotage terdapat Bangunan Dhammasala. Bangunan ini terdiri dari dua lantai, lantai dasar digunakan untuk ruang aula serbaguna yang luas dengan sebuah panggung didepannya sedangkan lantai atas untuk ruang Dhammasala.
Pada bagian tembok pagar disekiling dhammasala terdapat relief yang menceritakan tentang paticasamupada.
Dengan melihat relief ini kita akan lebih mudah memahami konsep paticasamupada
  
Semuanya bagian dalam komplek Vihara ditata dengan rapi dipadukan dengan keasrian lingkungannya serta ditambah dengan keindahan arsitektur Tiongkok menjadikan tempat ini relatif menyenangkan untuk berziarah serta beribadah maupun sekedar mampir untuk istirahat melepas lelah karena dalam perjalanan.
Jika sedang berwisata ke Semarang, tidak ada salahnya meluangkan waktu untuk mengunjungi salah satu obyek wisata religi kota Semarang. Dijamin Joss Gandos Kothos Kothos Nganti mBledhos......( Pinjam istilah mbak Soimah )....:-D


Kamis, 21 Maret 2013

Masjid Dian Al-Mahri ( Kubah Emas ), Depok, Jawa Barat, Indonesia

Masjid Dian Al Mahri dikenal juga dengan nama Masjid Kubah Emas adalah sebuah masjid yang dibangun di tepi jalan Raya Meruyung, Limo, Depok di Kecamatan Limo, Depok. Masjid ini selain sebagai menjadi tempat ibadah salat bagi umat muslim sehari-hari, kompleks masjid ini juga menjadi kawasan wisata keluarga dan menarik perhatian banyak orang karena kubah-kubahnya yang dibuat dari emas. Selain itu karena luasnya area yang ada dan bebas diakses untuk umum, sehingga tempat ini sering menjadi tujuan liburan keluarga atau hanya sekedar dijadikan tempat beristirahat.


Sejarah
Masjid ini dibangun oleh Hj. Dian Djuriah Maimun Al Rasyid, pengusaha asal Banten, yang telah membeli tanah ini sejak tahun 1996. Masjid ini mulai dibangun sejak tahun 2001 dan selesai sekitar akhir tahun 2006. Masjid ini dibuka untuk umum pada tanggal 31 Desember 2006, bertepatan dengan Idul Adha yang kedua kalinya pada tahun itu. Dengan luas kawasan 50 hektar, bangunan masjid ini menempati luas area sebesar 60 x 120 meter atau sekitar 8000 meter persegi. Masjid ini sendiri dapat menampung sekitar kurang lebih 20.000 jemaah. Kawasan masjid ini sering disebut sebagai kawasan masjid termegah di Asia Tenggara

Arsitektur
Masjid Dian Al Mahri memiliki 5 kubah. Satu kubah utama dan 4 kubah kecil. Uniknya, seluruh kubah dilapisi emas setebal 2 sampai 3 milimeter dan mozaik kristal. Bentuk kubah utama menyerupai kubah Taj Mahal. Kubah tersebut memiliki diameter bawah 16 meter, diameter tengah 20 meter, dan tinggi 25 meter. Sementara 4 kubah kecil memiliki diameter bawah 6 meter, tengah 7 meter, dan tinggi 8 meter. Selain itu di dalam masjid ini terdapat lampu gantung yang didatangkan langsung dari Italia seberat 8 ton
Selain itu, relief hiasan di atas tempat imam juga terbuat dari emas 18 karat. Begitu juga pagar di lantai dua dan hiasan kaligrafi di langit-langit masjid. Sedangkan mahkota pilar masjid yang berjumlah 168 buah berlapis bahan prado atau sisa emas.
Secara umum, arsitektur masjid mengikuti tipologi arsitektur masjid di Timur Tengah dengan ciri kubah, minaret (menara), halaman dalam (plaza), dan penggunaan detail atau hiasan dekoratif dengan elemen geometris dan obelisk, untuk memperkuat ciri keislaman para arsitekturnya. Ciri lainnya adalah gerbang masuk berupa portal dan hiasan geometris serta obelisk sebagai ornamen.
Halaman dalam berukuran 45 x 57 meter dan mampu menampung 8.000 jemaah. Enam menara (minaret) berbentuk segi enam atau heksagonal, yang melambangkan rukun iman, menjulang setinggi 40 meter. Keenam menara itu dibalut batu granit abu-abu yang diimpor dari Italia dengan ornamen melingkar. Pada puncaknya terdapat kubah berlapis mozaik emas 24 karat. Sedangkan kubahnya mengacu pada bentuk kubah yang banyak digunakan masjid-masjid di Persia dan India. Lima kubah melambangkan rukun Islam, seluruhnya dibalut mozaik berlapis emas 24 karat yang materialnya diimpor dari Italia.
Pada bagian interiornya, masjid ini menghadirkan pilar-pilar kokoh yang menjulang tinggi guna menciptakan skala ruang yang agung. Ruang masjid didominasi warna monokrom dengan unsur utama warna krem, untuk memberi karakter ruang yang tenang dan hangat. Materialnya terbuat dari bahan marmer yang diimpor dari Turki dan Italia. Di tengah ruang, tergantung lampu yang terbuat dari kuningan berlapis emas seberat 2,7 ton yang pengerjaannya digarap ahli dari Italia



Selasa, 26 Februari 2013

Dieng Plateau, Kab. Wonosobo, Jawa Tengah, Indonesia

Dieng adalah kawasan dataran tinggi di Jawa Tengah, yang berada di antara kabupaten Banjarnegara dan kabupaten Wonosobo, Propinsi Jawa Tengah - Indonesia dan juga diantara Gunung Sindoro dan gunung Sumbing.
Untuk menuju dieng bisa dari arah Yogyakarta dan dari arah Semarang, menuju arah kabupaten Wonosobo kemudian diteruskan ke arah Dieng. Di jalan menuju Dieng, ada obyek yang layak dikunjungi, yaitu Telaga Menjer.
Setelah itu akan ada obyek Gardu Pandang Dieng dan Tuk Bimo Lukar. Air dari Tuk atau sumber air ini di percaya dapat membuat awet muda bagi yang membasuh muka atau mandi..wuihh...:-D
Obyek wisata yang paling dekat dengan lokasi pemberhentian bus di Dieng adalah komplek candi Arjuno. Di sini dapat dilihat candi Arjuno, Candi Puntodewo, Candi Srikandi, Candi Sembodro dan Candi Gatotkaca.
Berdekatan dengan komplek candi Arjuna adalah Museum Dieng 'Kailasa'. Tempat ini berisi informasi mengenai candi yang ada di Dieng, dari sejarah awal mula sampai perkembangan terkini.
Kawah Sikidang adalah obyek selanjutnya. Disebut sikidang ( ind: kijang ), karena kawahnya yang selalu berpindah-pindah atau melompat-lompat seperti kidang ( kijang ).

Selanjutnya kita menuju Telaga Warna. Telaga ini mempunyai keunikan yaitu warna air telaga nya selalu berubah-ubah. Hal ini disebabkan kandungan mineral yang ada di dasar telaga, dan ketika terkena sinar matahari akan memantulkan cahaya yang berwarna warni...sangat indah.........:-)
Satu lokasi dengan telaga warna ada banyak obyek Wisata Goa. Bagi yang suka kegiatan Supranatural, kayaknya tempat ini layak dikunjungi..:-D
tetapi bagi yang tidak suka supranaturalpun diperbolehkan mengunjungi koq...:-) .Ada yang namanya goa pengantin, goa semar dll.
Tujuan selanjutnya adalah Dieng Plateau Theater. Tempat ini merupakan theater yang memutar film mengenai  daerah dataran tinggi Dieng, dari letak geografisnya, sejarah terbentuknya dataran tinggi ini dan kawah-kawah yang masih berbahaya di daerah ini. Kemudian dijelaskan pula mengenai kebudayaan yang masih eksis hingga saat ini.
Hal menarik lainnya akan kita temukan pada esok paginya, yaitu pemandangan Sun rise di bukit Sikunir.  Untuk mendapatkan keindahan ini, kita harus rela bangun pagi-pagi, berangkat dini hari dan mendaki bukit Sikunir. Lumayan lah untuk membuat nafas ngos2an....:-D
Ketika menuju bukit Sikunir, kita akan melewati Desa Sembungan yang merupakan desa yang letaknya tertinggi di pulau Jawa.
Kawah Sileri, Sumur Jalatunda dan Kawah Candradimuka adalah obyek yang menjadi tujuan selanjutnya. Dari kawah Candradimuka, hari sudah sore berarti saatnya harus balik ke Semarang. Meskipun belum semua obyek dapat dikunjungi, tapi sudah cukup membuat refresh... ( meskipun badan cukup capek.....:-D )





Sabtu, 26 Januari 2013

Goa Kreo, Gunung Pati - Semarang, Jawa Tengah

Kawasan Wisata Goa Kreo Semarang  ini berada di Dukuh Talun Kacang, Desa Kandri, Kecamatan Gunungpati, Kota Semarang. setelah dibangunnya Waduk Jatibarang seluas 46,56 hektar, yang berfungsi sebagai pengendali banjir di Kota Semarang, menjaga ketersediaan air minum, dan sebagai pembangkit tenaga listrik,  maka kawasan wisata goa kreo ini menjadi berada di tengah-tengah waduk, seperti pulau Samosir di tengah danau Toba ( Sumatra Utara ) atau seperti Gunung Kemukus di tengah waduk Kedung Ombo ( Jawa Tengah ).  
Untuk mencapai lokasi wisata ini
1.  Dari Semarang ( dari arah Kalibanteng, dari arah Sam Poo Kong, dari arah Mijen/Boja ), anda dapat naik angkot warna orange atau bis jurusan gunung pati atau Bus Rapit Transit ( BRT ) Koridor III , turun di pintu gerbang Kawasan Goa Kreo dan dilanjutkan dengan Ojek Motor atau berjalan kaki ( apabila ingin menikmati keindahan alam nya )
2.   Dari Ungaran atau dari Arah Cangikiran, naik bis jurusan semarang via gunung pati, turun di pintu gerbang Kawasan Goa Kreo dan dilanjutkan dengan Ojek Motor atau berjalan kaki

Sejarah
Legenda Goa Kreo 
Konon Legenda Gua Kreo tak terpisahkan dengan legenda asal mula nama Jatingaleh, sebuah kelurahan di lereng Bukit Gombel, Kecamatan Candisari, Kota Semarang. Dikisahkan, dahulu seorang wali yang punya kemampuan lebih, seperti Sunan Kalijaga, dapat berkomunikasi dengan tumbuhan dan binatang. Bahkan, ada pula pohon-pohon yang dipercaya bisa berpindah tempat.
Menurut legenda, kayu jati yang akan digunakan sebagai salah satu saka guru Masjid Agung Demak, adalah potongan kayu dari pohon jati yang berada di lereng Bukit Gombel. Ajaibnya, sewaktu Sunan Kalijaga akan mengambil kayu jati di kawasan tersebut, ternyata pohon jati itu sudah tidak ada.
Sunan Kalijaga kemudian mencari ke mana pohon jati itu berpindah. Dia terus mencari sampai ke hutan yang saat ini dikenal sebagai kawasan Gua Kreo. Sedangkan tempat asal pohon jati itu kemudian diberi nama Jatingaleh (bahasa Jawa) yang artinya ”jati berpindah”.

     Akhirnya Sunan Kalijaga menemukan kayu jati yang berpindah itu, tetapi berada di tempat yang sulit untuk diambil. Dia kemudian bersamadi di dekat sebuah gua, hingga datang empat ekor kera, masing-masing berbulu merah, kuning, putih, dan hitam. Kera-kera itu menyampaikan niat baik ingin membantu Sunan Kalijaga mengambil kayu jati yang diinginkan. Sunan Kalijaga menerima bantuan mereka dengan senang hati, akhirnya kayu jati itu berhasil diambil dari tempat yang suliSaat Sunan Kalijaga dan sahabat-sahabatnya hendak membawa kayu jati itu ke Kerajaan Demak untuk dibuat saka guru Masjid Agung Demak, keempat kera itu menyatakan ingin ikut serta. Karena mereka bukan manusia, Sunan Kalijaga keberatan. Namun sebagai balas jasa, kera-kera itu mendapat anugerah kawasan hutan di sekitar gua. Mereka diberi kewenangan ( jawa : ngreho ) yang berarti ”memihara” atau ”menjaga”. Dari kata ngreho itulah nama Gua Kreo berasal, dan sejak itu kera-kera yang menghuni kawasan ini dianggap sebagai pemelihara atau penjaga.
Sampai sekarang, Gua Kreo yang terletak di lereng Bukit Kreo, termasuk objek paling favorit yang didatangi pengunjung. Kedalaman gua mencapai 25 meter dari mulut goa. Sekitar 10 meter di sebelah kanan Gua Kreo, ada lagi sebuah gua bernama Gua Landak.

Gua Landak kedalamannya 30 meter. Tapi gua ini dibuat oleh pengelola Gua Kreo, bukan goa alami.
Jika pengunjung mempunyai keberanian, bisa menjajal memasuki goa ini untuk sekedar merasakan udara khas goa yang dingin dan lembab.
Setelah puas menelusuri goa, pengunjung bisa berjalan ke atas Bukit Kreo. Disana pengunjung dapat menemukan Monumen Batu. Menurut masyarakat sekitar, monumen tersebut dibuat sebagai 'tetenger' atau tanda kalau Sunan Kalijaga pernah menjejakkan kaki di Bukit Kreo.

Sejarah Gunung Pati
Nama Gunungpati diberikan oleh Kiai Pati, seorang prajurit dari Pati, yang membuka daerah ini. Gunung merujuk pada topografi wilayah ini, sementara Pati diambil dari namanya sendiri
Gunungpati pernah menjadi sebuah kabupaten. Hal itu dapat dibuktikan dari masih adanya dua pohon asam di tengah Alun-alun, sekitar 50 tahun lalu. Bahkan sampai sekarang, kita masih bisa menjumpai Kampung Ngabean, Pasar Kliwonan, Jagalan, dan Kauman di sekitar masjid, serta sebuah penjara bernama Sikrangkreng.
Di masa revolusi, Gunungpati adalah wilayah setenan dari asisten wedana wilayah Kawedanan Ungaran. Julukan bagi kepala pemerintahan Gunungpati adalah Pak Seten. Setelah Indonesia merdeka, tepatnya pada tahun 1947, wilayah Gunungpati menjadi bagian integral dari NKRI. Penduduk setempat ikut bergerilya melawan tentara penjajahan. Mereka membangun dapur umum secara sukarela, di sebuah rumah dekat makam Kiai Pati.
Status Gunungpati kemudian berubah dari kawedanan menjadi kecamatan di Kabupaten Semarang, tetapi pada pertengahan tahun 1980-an diminta bergabung dengan Kota Semarang

Flora dan Fauna
Karena Goa Kreo berlokasi di dataran rendah, untuk mencapai mulut goa pengunjung diharuskan menuruni anak tangga yang cukup banyak. Dengan membayar tiket masuk seharga Rp 5 ribu per orang, pengunjung dapat meneruskan perjalanan menuju goa melalui anak tangga menurun yang lebar-lebar. Disitu pengunjung akan disambut dengan sekelompok kera atau monyet berbuntut panjang. Sepanjang perjalanan menuju goa, pengunjung akan diikuti oleh kera-kera yang jinak. Bahkan pengunjung bisa ikut memberi makan kera-kera tersebut. Asal saat membawa makanan jangan pakai kantong yang ditenteng karena si monyet akan merebut bawaan yang kita bawa. Disamping kanan dan kiri anak tangga banyak pepohonan tumbuh sehingga perjalanan menuju goa akan terasa sejuk.
Goa Kreo menyuguhkan keindahan gua yang masih alami. Pepohonan, udara sejuk dan kawanan monyet akan menyambut saat kita memasuki kawasan Goa Kreo. Wisata goa ini banyak menarik wisatawan domestik. Pengunjung tidak hanya disuguhi keindahan goa tapi juga hamparan sawah karena sekeliling goa masih terdapat sawah yang luas
Monyet monyet yang ada di Goa Kreo ini adalah monyet ekor panjang (Macaca fascicularis), jenis yang sama dengan yang ada di Batu Cave, Malaysia. Monyet yang ada di sini termasuk monyet yang cukup jinak, dan bisa bergaul dengan warga di sekitar Goa Kreo.
Di kawasan ini terdapat tebing dan jurang terjal yang bisa disaksikan dari mulut goa. Di bawahnya berkelok-kelok Sungai Kreo. Dari mulut goa perjalanan bisa dilanjutkan menuju air terjun dengan anak tangga yang berkelok-kelok juga dan menyempit. Anak tangga menuju ke air terjun sangat terjal. Apabila membawa seorang anak kecil lebih baik digendong. Air terjun setinggi 25 m tak henti mengalirkan air yang jernih masuk ke sungai dengan kondisi yang masih alami. Berbagai bebatuan dengan ukuran kecil hingga besar berserakan di Sunga Kreo yang mengalir di bawah air terjun.

Acara Tahunan
Setiap tahun di Goa Kreo diadakan tradisi kirab sesaji Rewanda dan napak tilas Sunan Kalijaga yang dilaksanakan masyarakat sekitar Goa Kreo. Kirab sesaji hasil bumi yang disusun menjadi tumpeng buah-buahan untuk makanan kera, tumpeng nasi dan replika kayu jati tiang Masjid Demak dikirab oleh warga masyarakat menuju pelataran parkir Goa Kreo. Kemeriahan tradisi ini melibatkan seluruh warga baik tua maupun muda. Dan tidak hanya menarik wisatawan lokal tetapi juga wisatawan mancanegara.

Sumber data dan Photo : ekowisataku.blogspot.com, suaramerdeka.com, visitsemarang.com , seputarsemarang.com